Bersama Inaq Tuan di sawah Madang Waktu mengantar ibu berangkat haji ke tanah suci Makkah, do’a satu-satunya yang terlintas dikepala yang saya lepaskan ke langit saat berada dilapangan udara Selaparang, Kota Mataram. “Ya Allah izinkan hamba naik pesawat. Saya ingin merasakan naik pesawat” Do’a itu saya panjatkan dalam hati dari bawah pagar tembok besi bersama puluhan orang yang berdiri saling berdesakan untuk melihat badan pesawat. Pagar tembok besi itu letaknya disebelah timur. Itulah satu-satunya celah untuk kita melihat pesawat dari jarak yang lebih dekat. Itu pun hanya ekornya saja yang bisa kami lihat. Itu juga pertama kalinya kami diizinkan bisa masuk kedalam area bandara. Tahun-tahun sebelumnya dari saya masih SD, setiap mengatar jamaah haji kami hanya sampai diluar area bandara. Orang kampung seperti kami tidak diperbolehkan atau tidak punya akses untuk masuk kearea bandara. Kami para pengantar haji yang umumnya datang pakai mobil engkel atau truk biasany...
Bersama sahabat Abdul Kasim Djalal, seorang pengacara muda berbahaya di Mataram dikantornya . Tadi malam setelah sholat taraweh saya membaca dua buku. Buku pertama baru saya beli, belum habis saya baca. Cover warna kuning. Saya memang sengaja membacanya agak pelan karena isinya sangat menarik. Penulisnya suami istri dari Australia. Buku ini termasuk internasional best seller. Banyak dijadikan rujukan pengembangan diri oleh orang-orang dari berbagai negara. Buku kedua cover warna hijau, ditulis seorang perempuan asal Indonesia. Ia seorang trainer pengembangan diri dan mindset uang yang bayar kelasnya mulai 3 - 6,5 juta. Buku ini sudah lama saya beli dan bolak balek saya baca berkali-kali. Buku pertama baru saya baca sampai bab 2 yang membahas penting menentukan dan menulis tujuan. Saat sedang membaca itu saya tiba-tiba ingin membaca buku pertama yang letaknya di atas meja sebelah kiri. Di tumpuk oleh buku-buku lain yang juga sudah bolak balek saya baca. Saya penasaran buku ...