Langsung ke konten utama

Mimpi Anak Desa Naik Pesawat

Bersama Inaq Tuan di sawah Madang

Waktu mengantar ibu berangkat haji ke tanah suci Makkah, do’a satu-satunya yang terlintas dikepala yang saya lepaskan ke langit saat berada dilapangan udara Selaparang, Kota Mataram.

“Ya Allah izinkan hamba naik pesawat. Saya ingin merasakan naik pesawat”  

Do’a itu saya panjatkan dalam hati dari bawah pagar tembok besi bersama puluhan orang yang berdiri saling berdesakan untuk melihat badan pesawat.  

Pagar tembok besi itu letaknya disebelah timur. Itulah satu-satunya celah untuk kita melihat pesawat dari jarak yang lebih dekat. Itu pun hanya ekornya saja yang bisa kami lihat.

Itu juga pertama kalinya kami diizinkan bisa masuk kedalam area bandara. Tahun-tahun sebelumnya dari saya masih SD, setiap mengatar jamaah haji kami hanya sampai diluar area bandara.

Orang kampung seperti kami tidak diperbolehkan atau tidak punya akses untuk masuk kearea bandara. Kami para pengantar haji yang umumnya datang pakai mobil engkel atau truk biasanya nginap dipinggir jalan sepanjang jalan Rembinga. Atau kami menginap dilapangan umum Rembiga yang letaknya sebelah timur area bandara.    

Saya ingat itu tahun 1998. Tahun yang menandai rontoknya porak-porandanya ekonomi Indonesia oleh krisis moneter. Pada tahun itu juga rezim Orde Baru dipaksa jatuh oleh rakyat.

Dua tahun setelah itu, mulai kuliah di Mataram, merasakan jadi anak ekos berpindah-pindah setiap tahun mulai dari Dasan Agung, Pelita, Pejeruk, Pejarakan, Ampenan, Moncok, Perumnas.

Setelah beberapa tahun berlalu, ternyata do’a yang saya langitkan itu menjadi kenyataan. Sungguh Tuhan itu maha baik. Anak desa seperti saya yang dulu hanya bisa melihat pesawat dari jauh akhirnya dapat merasakan naik pesawat.

Tentu saja saat itu saya belum mengenal namanya visualisasi, affirmasi, manifestasi atau the low of attraction. Saya mulai mengenal istilah-istilah itu setelah membaca berbagai macam gendre buku.

Belakangan saya bukan hanya bisa keluar masuk secara bebas area bandara untuk berbagai keperluan, tapi juga dapat merasakan deguk jantung naik turun setiap naik ‘burung besi’ itu.

Selama bandara Selaparang masih operasional, oleh kuasa Tuhan saya dapat merasakan naik turun pesawat untuk tujuan penerbangan Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Bandung, Bogor dan Makasar.

Setelah bandara internasional lombok (BIL) dibuka, tak terhitung berapa kali naik pesawat untuk kepentingan pekerjaan keberbagai kota di Indonesia. 

Adakah do’a dan mimpi teman-teman waktu kecil kini sudah terwujud, ayo cerita pengalamannya teman-teman []. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Honor Kejuatan SUARA NTB

Bukan kali ini saja saya mendapatkan honor menulis dari koran SUARA NTB . Sudah sering. Kurang lebih sudah 14 kali selama dua tahun. Walau nilainya tidak begitu besar tapi honor kali ini agak supraze. Datang secara tiba-tiba. Tak dipikirkan dan tidak disangka-sangka. Masuk dalam kategori, ma khaisu la yahtasif. Dan letak nilainya bukan dibesar kecil angkanya tapi dikejutannya. Ceritanya begini. Kamis siang itu saya mampir ke ATM BNI Cabang Mataram. Saya bermaksud ingin mengambil uang untuk membayar premi asuransi yang biasa saya bayar 3 bulan sekali. Ketika mengecek saldo direkening, saya heran kok ada tambahan uang masuk dalam rekening tersebut. Saya penasaran, siapa kira-kira yang mengirim? Jangan-jangan ada orang salah transper sehingga saldo saya bertambah sekian ratus ribu? Biasanya kalau yang tranper pasti ada pemberitahuan. Sekian menit berpikir, belum ketemu juga jawabannya. Saya lalu memutuskan untuk mengambil uang tunai sesuai yang saya butuh. Salah satu edisi Harian...

Berbagi Elemen Literasi di Batulayar

Saya tidak pernah berpikir sebelumnya, bahwa kegiatan literasi itu bisa menarek saya mendatangi berbagai tempat dan lokasi yang sebelumnya tidak pernah terlintas dipikiran. Mulai dari bicara dihadapan siswa SD, MTs, MA, SMA, mahasiswa, pondok pesantren, guru-guru dan lintas organisasi mahasiswa. Mulai diundang oleh teman-teman mahasiswa di Mataram, Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Lombok Utara. Berkat literasi juga saya bisa menginjakkan kaki diberbagai daerah dan kota di Indonesia. Tinggal tanah Papua yang belum. Kalau disebut dan perinci satu-satu tentu akan sangat panjang ceritanya. Setiap tempat menyimpan cerita, kisah dan kenangan tersendiri. Datang diberbagai tempat itu bukan hanya bertemu dan berkenalan dengan banyak orang tapi juga melihat, mendengar dan mengalami secara langsung situasi dan ritme kehidupan yang ada dilokasi tersebut. Bahwa hidup bukan hanya apa yang kita lihat dan alami sehari-hari dari lingkungan terdekat. Di luar sana banyak sekali warna dan ...

Pengalaman Berkali-kali Memanifestasi Buku

Sebagai orang yang suka membaca, saya punya pengalaman berkali-kali memanifestasi sebuah buku yang saya inginkan. Beberapa buku yang ingin saya baca bisa saya miliki dalam waktu beberapa hari, minggu, bulan bahkan ada yang sampai satu tahun lebih.   Kata manifestasi berasal dari istlah bahasa Inggris yaitu manifesting yang berarti mewujudkan. Jadi manifestasi itu proses mewujudkan apa yang pikirkan itu agar menjadi kenyataan.       Buku “Manifestasi” karya Roxie Nafousi ini misalnya pertama kali saya lihat ulasannya dimedia online berbahasa Inggris harperbazaar.com pada 23 Januari 2026. Saya tahu itu karena saya sempat simpan wawancara Roxie di leptop yang ternyata dipublist pada 23 Januari 2022. Saya langsung penasaran sama isi dan 7 langkah manifestasi yang ditulis dalam buku ini. Saya juga googling cerita dan pengalaman penulisnya.     Sejak itu saya berucap pada diri sendiri. “Suatu hari saya harus baca dan punya buku ini” Setelah itu saya lup...