![]() |
| Bersama sahabat Abdul Kasim Djalal, seorang pengacara muda berbahaya di Mataram dikantornya. |
Tadi malam setelah sholat taraweh saya membaca dua buku. Buku pertama baru saya beli, belum habis saya baca. Cover warna kuning. Saya memang sengaja membacanya agak pelan karena isinya sangat menarik. Penulisnya suami istri dari Australia. Buku ini termasuk internasional best seller. Banyak dijadikan rujukan pengembangan diri oleh orang-orang dari berbagai negara.
Buku kedua cover warna hijau, ditulis seorang perempuan asal Indonesia. Ia seorang trainer pengembangan
diri dan mindset uang yang bayar kelasnya mulai 3 - 6,5 juta. Buku ini sudah
lama saya beli dan bolak balek saya baca berkali-kali. Buku pertama baru saya
baca sampai bab 2 yang membahas penting menentukan dan menulis tujuan.
Saat sedang membaca itu saya tiba-tiba ingin membaca buku pertama yang letaknya di
atas meja sebelah kiri. Di tumpuk oleh buku-buku lain yang juga sudah bolak
balek saya baca. Saya penasaran buku apa saja yang dijadikan rujukan pada saat
menulis buku itu. Pada halaman daftar pustaka tercantum judul buku yang ditulis
oleh pasangan suami istri asal Australia tersebut.
Saat membuka buku itu,halaman yang saya buka membahas tentang tujuan dan bagaimana penulis perempuan
itu menulis daftar tujuan hidupnya yang 85 persennya terwujud di bab 6. Sama
persis seperti yang dibahas dan ulas dibuku pertama dihalaman bab 2.
Hanya butuh sekali membuka, kok langsung membahas hal yang sama dengan yang saya baca dibuku
pertama. Sekilas ini seperti kebetulan, toh penulis kedua mengutif buku pertama
sebagai rujukan dalam menulis bukunya.
Coba perhatikan, dua buku ditulis oleh orang, negara dan tahun yang berbeda.
Penulis kedua mengutip dan mengulas isi
buku pertama. Saya belinya waktu yang berbeda. Ketika buku pertama saya baca kok
tiba-tiba teringat dengan buku kedua, lalu menemukan buku pertama dijadikan
rujukan dan referensi oleh penulis kedua. Dan ketika buku kedua saya buka,
ternyata yang pertama kali terbuka pembahasan yang sama dengan yang ditulis pada
buku pertama yang baru saja saya baca.
Sebuah pengalaman yang unik dan menarek. Namun ini bukan kebetulan semata. Kejadian sederhana ini justru semakin
meneguhkan kembali apa yang selama ini saya baca dan pelajari dari berbagai ahli
pengembangan diri. Apa yang kita beri perhatian (attensi) - itulah yang akan
terjadi. Apa yang kita alami ter-pola, bukan kebetulan.
Mungkin bagi Anda, ini
kejadian kecil dan tak berarti apa-apa.
Bagi saya ini justru hal-hal yang terjadi berulang-ulang dan terjadi berkali-kali mesti dalam bentuk serta konteks
yang berbeda. Anda akan bisa menangkap dan memaknai kejadian-kajadian kecil
seperti ini kalau belajar menjadi pengamat bagi diri sendiri. Bila tidak, ia
berlalu dan tidak akan bermakna apa-apa.
Oke, saya lanjut baca lagi buku pertama
yang menarik itu .[]

Komentar
Posting Komentar