Langsung ke konten utama

Beda Iklan Produk dengan Iklan Pejabat

beda, iklan, poster, pejabat, produk, komersial, jalan, langko, mataram
Jalan Langko, Mataram (foto http://klikpic.wordpress.com)
Berjalan setiap hari dijalan Langko, Mataram bukan hanya iklan produk yang akan menyapa pandangan kita tapi juga iklan dan poster-poster pejabat. Iklan produk dan poster pejabat itu seringkali berebut ruang paling pas untuk mennjolkan diri.

Kalau iklan produk sudah tentu membayar royalti kepada daerah. Ada PAD yang masuk. Materi iklannya juga sangat kreatif dan pariatif, tidak monoton. Mereka bukan hanya memperkenalkan produknya, tapi tak jarang memberikan kata-kata motivasi.

“Berhentilah menghitung masalah, berjalanlah merangkai langkah”. Kira-kira begitu bunyi iklan rokok kretek yang saya baca dijalan Bungkarno, Selatan Pom Bensin pajang. Bagi saya kata-kata motivasi itu sangat yahut. Sayang kalau kita yang membacanya tidak nyangkut dihati.

Coba bandingkan dengan iklan pejabat yang kadang setiap dua minggu atau setiap bulan berganti. Materi iklannya monoton. Lebih banyak himbauan dari pada inovasi. Lebih banyak menampilkan foto mereka dan istrinya. Pakaiannya selalu berganti dan tentu dengan harga yang tidak murah.

Dan yang pasti mereka tidak bayar ketika iklan itu dipasang. Pada hal iklan itu lebih banyak kampanye pribadi dari pada program. Maka masyarakat memaknainya sebagai pencitraan dan pemolesan. Dan yang pasti pembuatannya mengeluarkan PAD bukan menambah. Ya karena merekalah penguasanya.

Itulah mungkin yang menyebabkan banyak pejabat gagal membrending diri dan programnya walau sudah menghabiskan dana ratusan bahkan milyaran rupiah untuk beriklan. Akhir orang beranggapan, mereka lebih banyak mengekspos diri kitimbang program. Tak heran kalau isi dan materi iklan tersebut tidak nyangkut dihati rakyat.

Inilah beberapa gejala yang terjadi dijalan raya. Yang nampak dan terlihat setiap hari. Saya tidak tahu bagaimana gejala yang terjadi diruang kerja mereka. Sayang saya tidak punya fotonya yang bisa diposting disini.

Ampenan, (5/11) 2013

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berbagi Elemen Literasi di Batulayar

Saya tidak pernah berpikir sebelumnya, bahwa kegiatan literasi itu bisa menarek saya mendatangi berbagai tempat dan lokasi yang sebelumnya tidak pernah terlintas dipikiran. Mulai dari bicara dihadapan siswa SD, MTs, MA, SMA, mahasiswa, pondok pesantren, guru-guru dan lintas organisasi mahasiswa. Mulai diundang oleh teman-teman mahasiswa di Mataram, Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Lombok Utara. Berkat literasi juga saya bisa menginjakkan kaki diberbagai daerah dan kota di Indonesia. Tinggal tanah Papua yang belum. Kalau disebut dan perinci satu-satu tentu akan sangat panjang ceritanya. Setiap tempat menyimpan cerita, kisah dan kenangan tersendiri. Datang diberbagai tempat itu bukan hanya bertemu dan berkenalan dengan banyak orang tapi juga melihat, mendengar dan mengalami secara langsung situasi dan ritme kehidupan yang ada dilokasi tersebut. Bahwa hidup bukan hanya apa yang kita lihat dan alami sehari-hari dari lingkungan terdekat. Di luar sana banyak sekali warna dan ...

Pengalaman Berkali-kali Memanifestasi Buku

Sebagai orang yang suka membaca, saya punya pengalaman berkali-kali memanifestasi sebuah buku yang saya inginkan. Beberapa buku yang ingin saya baca bisa saya miliki dalam waktu beberapa hari, minggu, bulan bahkan ada yang sampai satu tahun lebih.   Kata manifestasi berasal dari istlah bahasa Inggris yaitu manifesting yang berarti mewujudkan. Jadi manifestasi itu proses mewujudkan apa yang pikirkan itu agar menjadi kenyataan.       Buku “Manifestasi” karya Roxie Nafousi ini misalnya pertama kali saya lihat ulasannya dimedia online berbahasa Inggris harperbazaar.com pada 23 Januari 2026. Saya tahu itu karena saya sempat simpan wawancara Roxie di leptop yang ternyata dipublist pada 23 Januari 2022. Saya langsung penasaran sama isi dan 7 langkah manifestasi yang ditulis dalam buku ini. Saya juga googling cerita dan pengalaman penulisnya.     Sejak itu saya berucap pada diri sendiri. “Suatu hari saya harus baca dan punya buku ini” Setelah itu saya lup...

Legit dan Gurih Pelemeng Campur Poteng

Pelemeng dan Poteng, pasangan serasi untuk disantap bersamaan dikala silaturrahmi hari Lebaran SETIAP kampung di Lombok punya jajan khas yang dibuat khusus menjelang Hari Raya Idul Fitri. Di Desa Aikmel, Lombok Timur misalnya – beberapa hari menjelang lebaran, kaum ibu sudah sibuk menyiapkan beraneka jenis makanan dan jajan yang akan disajikan pada hari istimewa. Di antara jajan yang selalu ada disebut Pelemeng dan Poteng. Bila datang bersilaturrahmi kewarga - Pelemeng dan Poteng yang terdepan untuk disuguhkan. Pelemeng yang terbuat dari ketan rasanya gurih dan kenyal sedangkan Poteng terasa manis dan berair. Saat dimakan, akan bertemu rasa gurih dan manis dimulut. Dua jenis jajan tradisional masyarakat Sasak ini cukup mengenyangkan kalau dimakan.   Pelemeng terbuat dari ketan yang dibungkus dengan daun pisang. Membuat Pelemeng, daun pisang yang dipakai sengaja dipilih yang ukuran diameternya besar dan panjang. Daun pisang dijemur terlebih dahulu sebelum dibentuk ...