Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2011

Kepala Daerah yang Menggerakkan

PESTA pemilihan kepala daerah (Pilkada) langsung sudah lama usai. Kini  saatnya rakyat menagih janji-janji politik pasangan kepala daerah yang sedang berkuasa. Melalui Pilkada langsung diharapkan akan lahir sosok pemimpin yang legitimit. Sistem dan mekanisme ini diniatkan mampu mendorong partisipasi politik rakyat secara luas.   Melalui Pilkada langsung, rakyat memperoleh hak politiknya secara penuh untuk memilih figur pemimpin secara independen, bertanggungjawab dan tanpa unsur paksaan. Sesuatu di masa Orde Baru begitu sulit didapatkan. Tapi apa artinya, Pilkada langsung bila kepala daerah yang terpilih masih bermental status quo dan tidak mampu menggerakkan kesadaran rakyatnya. Di NTB banyak kepala daerah yang memiliki prestasi gemilang. Mulai dari prestasi akademik dengan sederet gelar dari dalam dan luar negeri. Termasuk prestasi politik dengan menjadi ketua partai besar. Di tambah lagi dengan berbagai macam penghargaan dari komunitas masyarakat tertent

Koalisi Penulis Muda

BELASAN penulis muda berkumpul dikantor Suara NTB, Rabu (2/2) malam lalu. Mereka hadir atas undangan penanggungjawab Suara NTB dan Radio Global FM Lombok, Bapak Agus Talino. Pertemuan itu berlangsung hangat dan  akrab sehingga tak terasa diskusi baru berakhir pukul 24.00 wita. Para penulis yang hadir datang dengan latar profesi yang beragam. Mulai dari mahasiswa, dosen, guru, birokrat, pengamat politik dan pegiat LSM. Dari pembicaraan yang muncul tergambar antusiasme mereka untuk menulis. “Ini kesempatan langka yang sudah lama kita tunggu,” kata seorang teman yang menjadi dosen. Pada pertemuan itu pengelola Suara NTB,  bukan hanya meminta para penulis untuk mengirimkan buah pikiran cerdasnya tapi juga berjanji akan memberikan penghargaan (honor) kepada penulis yang tulisannya terbit. Itu artinya Suara NTB adalah media pertama di daerah ini yang berani memberikan honor kepada penulis opini. Harapannya, akan terjadi kompetisi dan seleksi antar penuli

Gurita Gizi Buruk

TAHUN 2006 silam saya diundang oleh teman-teman jaringan untuk menghadiri sebuah acara di Yogyakarta. Kegiatan itu dihadiri oleh puluhan peserta dari Sulawesi, Kalimantan, NTB dan dari Jawa sendiri. Di sela-sela acara, tiba-tiba saya ditanya oleh seorang peserta dari Jawa.“Bagaimana kabar gizi buruknya ? Saya kaget dan tidak bisa memberikan jawaban yang memadai. Saat itu gizi buruk, istilah lainnya mal nutrisi atau busung lapar sedang ‘mengamuk’ di daerah ini. Satu persatu korban gizi buruk berjatuhan. Di Lombok Timur dan Lombok Barat terdapat ratusan balita penderita gizi buruk. Itu belum termasuk yang meninggal dunia karena penanganannya terlambat.  Kasus itu lalu menjadi headline media lokal dan nasional. Isu itu kemudian mengundang simpati serta bantuan dari berbagai kalangan. Oleh Menteri Kesehatan RI saat itu kemudian dikategorikan sebagai kajadian luar biasa yang perlu penanganan serius dan terus menerus. Kini di usia NTB sudah setengah abad le