Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2013

Jejak Rekam Saya Dalam Buku (1)

Beberapa buku yang merekam jejam saya kurun 2008-20011 SEMUA orang ingin meninggalkan rekam jejak yang baik dalam hidupnya. Kalau ada orang yang ingin mewariskan rekam jejak yang tidak baik, perlu dipertanyakan kesehatan mentalnya. Orang itu bisa digolongkan sebagai ‘mahluk langka’ sedunia. Apa lagi hidup hanya sekali. Tidak bisa diulang, dimajukan atau dimundurkan. Cuman bedanya, setiap orang punya cara yang berbeda akan jejak rekam seperti apa yang akan ditinggalkan. Salah satu cara paling tepat untuk merekam jejak pemikiran dan hidup kita melalui tulisan. Dari sepotong tulisan, lama-lama menumpuk menjadi buku. Awalnya tulisan kita hanya dibaca oleh beberapa gelintir orang lalu meluas mencapai puluhan, ratusan bahkan ribuan orang. Tulisan itu tidak bahkan mampu melintasi waktu dan tempat dalam rentang lama. Mulanya hanya sebagai anak kampung berubah menjadi sosok yang tidak kampungan. Saya bersyukur sampai saat ini masih bisa melihat, membaca dan memegang rekam jejak saya me

Jejak Rekam Saya Dalam Buku (2)

KETIGA, Agama dan Pergeseran Representasi : Konflik dan Rekonsiliasi di Indonesia (September 2009)-Seri Agama Dan Konflik 2. Dalam buku ini saya menyumbang tulisan dengan judul Mengurai Konflik Sunnah Vs Bid’ah Di Pulau Seribu Masjid . Buku kedua ini juga diterbitkan secara keroyokan dengan 13 orang penulis dari berbagai daerah seperti Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan NTB. Sebagaimana judulnya, buku ini secara mendalam mengulas berbagai konflik keagamaan di Indonesia. Umumnya konflik itu yang menjadi korbannya kelompok minoritas. Ada yang disesatkan, dilarang melakukan ibadah dan sebagian lagi konflik pendirian tempat ibadah intern dan antar umat beragama. KEEMPAT, SBY, TGB dan BM : Esai-Esai Reflektif Dari dan Tentang NTB (Januari 2011). Inilah buku pertama yang saya tulis sendiri dan tertera nama saya dicover buku. Tidak jauh beda dengan buku sebelumnya, buku ini berisi kumpulan artikel saya yang telah terbit diberbagai media lokal di Mataram dalam beberapa tahun sebelumnya

Produktif Beternak Ide Setiap Hari

http://nedaeroplanet.blogspot.com/2012/12/mind-map.html Sadar atau tidak, setiap hari kita memproduksi dan beternak ide . Ide baru datang silih berganti. Ide datang tidak mengenal waktu dan tempat. Tiba-tiba muncul dan hilang. Dan manusialah satu-satunya mahluk Tuhan yang diberikan kemampuan untuk memproduksi ide setiap hari. Cuman kelemahan saya sering kali produktivitas beternak ide itu tidak sebanding dengan kemampuan saya dalam mewujudkan ide tersebut dalam bentuk yang lebih kongkrit dan nyata. Salah satu bentuknya melalui tulisan yang bisa dilihat, dibaca dan dirasakan. Sering kali saya hanya sampai pada tahap memikirkan bukan mewujudkan. Coba kita perhatikan diberbagai forum diskusi, dialog, seminar dan lain-lain, semua orang bisa melontar ide, kritik dan saran. Hampir tidak ada orang yang tidak berani menyampaikan atau melontarkan idenya kepada orang lain. Tapi lagi-lagi, setelah dilontarkan kemudian selesai sampai disitu. Artinya, produktivitas kita memproduksi tidak se

Pentingnya Melek Keuangan Pribadi

http://www.ciputraentrepreneurship.com Setelah berkeluarga saya baru sadar ternyata melek keuangan (financial literacy) itu sangat penting. Melek keuangan menjadi penting ketika kita sudah memiliki penghasilan tetap. Lebih penting lagi bila kita belum memiliki sumber pendapatan tetap. Melek keuangan yang saya maksud bukan mengajak anda untuk melebarkan mata lebar-lebar bila melihat uang. Yang saya maksud justru bagaima kita bisa mengelola uang kita secara baik sejak gaji pertama keluar. Saya menyadari hal ini setelah bertahun-tahun bekerja namun tidak punya aset berharga. Saya kalah langkah dengan teman lain yang belakangan bekerja tapi sudah memiliki aset berharga. Biangnya ternyata, saya tidak pernah menyisihkan sebagian pendapatan saya untuk ditabung. Penghasilan bulanan saya habis untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari. Selain tidak pernah menabung, saya juga tidak pernah berpikir untuk menyisihkan sebagian gaji saya untuk diinvestasi kedalam bentuk barang yang memiliki nilai e

Supaya Masa Depan Tidak Terbunuh

Suatu malam saya di-SMS oleh seorang teman. Ia minta ditemani menginap di sebuah hotel di Mataram, NTB. Setelah salat isya saya pun bergegas menemuinya dengan diantar oleh seorang teman. Begitu sampai di hotel, kami bertiga langsung menuju ruang makan. Usai makan malam, kami mengobrol berbagai hal. Setelah cukup, saya pun mengantar teman yang mengantar tersebut sampai gerbang masuk hotel untuk pulang. “Tumben saya masuk hotel,” katanya spontan. Saya tersenyum mendengar celetukannya. Sebuah ungkapan yang jujur dan polos. “Nanti kapan-kapan saya ajak ente nginep di hotel, ya?” ucap saya kepadanya di halaman lobi hotel. Di kamar, sambil nonton TV, kami kembali mengobrol ngalor-ngidul. Obrolan tambah seru dengan datangnya seorang teman yang asyik diajak ngobrol berbagai hal, dari masalah perempuan proyek, sampai politik. Pembicaraan kami nyambung terus bak lintasan kereta api. Tepat tengah malam, disalah satu TV swasta muncul film action Barat yang seru. Sayang saya tidak sempat melih

Di Tolak Setiap Hari Untuk Sukses

Tahukah anda pekerjaan apa yang mengalami penolakan setiap hari? Tahukah anda pekerjaan apa yang pegawainya menganggap penolakan sebagai hal biasa setiap hari. Bahkan penolakan sudah menjadi makanan sehari-hari. Uniknya, pekerjaan yang penuh dengan penolakan itu justru memberikan peluang gaji dan bonus yang sangat besar. Dalam hidup siapa yang mau ditolak ? Hanya orang-orang aneh dan keras kepala yang bersedia ditolak setiap hari. Selaku mahluk aneh bin langka, tentu model manusia macam ini tidak banyak. Stock-nya sedikit. Bukankah hukum pasar masih berlaku, kalau stock sedikit lalu permintaan banyak, maka harganya akan mahal. Untuk mendapatkan gaji, honor atau pendapatan yang besar hukum pasar tetap berlaku. Siapa yang bersedia ditolak setiap hari, dia lah yang akan mendapatkan pendapatan besar. Siapa yang tidak mudah menyerah dan putus asa yang akan mendapatkan komisi rutin setiap minggu, bulan atau tahunan. Resikonya ditolak, diabaikan, dicuekkan inilah yang menyebabkan pek

Beda Iklan Produk dengan Iklan Pejabat

Jalan Langko, Mataram (foto http://klikpic.wordpress.com) Berjalan setiap hari dijalan Langko, Mataram bukan hanya iklan produk yang akan menyapa pandangan kita tapi juga iklan dan poster-poster pejabat. Iklan produk dan poster pejabat itu seringkali berebut ruang paling pas untuk mennjolkan diri. Kalau iklan produk sudah tentu membayar royalti kepada daerah. Ada PAD yang masuk. Materi iklannya juga sangat kreatif dan pariatif, tidak monoton. Mereka bukan hanya memperkenalkan produknya, tapi tak jarang memberikan kata-kata motivasi. “Berhentilah menghitung masalah, berjalanlah merangkai langkah”. Kira-kira begitu bunyi iklan rokok kretek yang saya baca dijalan Bungkarno, Selatan Pom Bensin pajang. Bagi saya kata-kata motivasi itu sangat yahut. Sayang kalau kita yang membacanya tidak nyangkut dihati. Coba bandingkan dengan iklan pejabat yang kadang setiap dua minggu atau setiap bulan berganti. Materi iklannya monoton. Lebih banyak himbauan dari pada inovasi. Lebih banyak menam

Penceramah dan Pedagang Obat

Ibu-ibu pengajian Majelis Taklim Hidatuddarain, Dasan Geres, Gerung, Lobar setiap hari minggu MENDENGAR ceramah itu kadang tak ubahnya mendengar 'pedagang obat'. Obat ini bagus, menyehatkan yang lain tidak bagus. Pada hal ia tidak pernah mencoba dan merasakan khasiatnya. Dia hanya tahu dari keterangan yang tertera dibungkus obat. Beda kalau yang menjual obat itu misalnya orang farmasi.     Demikian juga dengan seorang penceramah. Dia sering mengatakan kalau mau selamat, ini jalannya. Kalau tidak, itu jalannya. Ingin meraih surga, ini rutenya. Neraka itu juru sannya. Dosa, pahala ini merek dan bungkusnya. Kadang ada yang bercerita surga-neraka ini itu -pada hal ia sendiri belum pernah berkunjung kesana. Disini saya bukan dalam kapasitas meragukan surga-neraka. Kalau itu sudah final. Akibatnya, apa yang diceritakan atau tawarkan tidak membekas dihati pendengarnya. Apa yang disampaikan masuk telinga kanan, keluar telinga kiri pendengar. Ini lah salah satu yang menyebabka

Memelihara Ketakutan

http://penjasorkes-zone.blogspot.com SAYA baru sadar ternyata kita sering takut mencoba sesuatu yang baru. Ketakutan itu menyebabkan kita tidak pernah berani mencoba dan belajar hal-hal baru. Inilah yang menyebabkan kita lamban dan terlalu berhati-hati dalam mengambil keputusan. Kita sering kali menciptakan ketakutan sendiri dalam pikiran kita. Akhirnya bukan keputusan yang kita raih tapi putus asa. Sadar atau tidak sadar ternyata terlalu banyak ketakutan yang ada dalam diri kita. Entah ketakutan yang datang dari dalam atau atas pengaruh dari luar. Setiap orang memang punya ketakutannya berbeda-beda.Tidak hanya satu ketakutan tapi lebih dari itu. Ada orang takut miskin, takut tua-keriput, takut kalah, takut non job, takut gagal dan lain-lain. Kalau ditulis bisa berlembar-lembar. Kita maphum, perasaan takut sesuatu yang manusiawi dan lumrah yang ada pada setiap orang. Tapi kalau ketakutan-ketakutan itu tidak memiliki dasar yang jelas dan logis, tentu akan menjadi masalah. Lama-lam

Bonus (asuransi) Pertama, Ibarat Cinta Pertama (2)

ilustrasi by northstartravelmedia.com Satu minggu kemudian honor saya dikirim via rekening. Saat itu honor satu opini Rp.125.000. Walau nilainya tidak besar, girangnya bukan main. Saya ingat, biaya mentraktir teman-teman makan soto itu melebihi honor yang saya terima dari Bali Post. Itu artinya, saya nombok. Hal itu masih sering saya ceritakan kepada teman-teman khususnya ketika memberikan pelatihan menulis yang pesertanya butuh motivasi untuk menulis. Kepada adek-adek siswa dan mahasiswa, cerita itu sering saya bagi-bagi. Bukan besarnya yang patut dibanggakan tapi kisahnya dan untuk apa honor itu dipergunakan. Sama halnya ketika orang sering menceritakan cinta pertama atau pacar pertamanya. Setiap orang pasti memiliki cerita dan pengalaman yang berbeda-beda akan cinta atau pacar pertamanya. Ada yang berakhir romantis, tidak sedikit yang berujung tragis. Dalam urusan ini saya tentu berharap akan mendapatkan pengalaman dan pendapatan yang sangat romantis. Do’akan ya sobat. P

Bonus (asuransi) Pertama, Ibarat Cinta Pertama (1)

http://www.mrsjanuary.com/ Dua minggu lalu apa yang saya tunggu akhirnya cair. Bonus saya mengajak orang untuk menyisihkan sebagian rezekinya untuk membeli asuransi jiwa akhirnya datang. Nilainya lumayan, lebih dari cukup untuk membayar premi tiga bulan kedepan. Dengan bonus itu, saya tidak perlu lagi mengalokasikan dana khusus untuk membayar premi. Dia (asuransi) sudah bisa membayar dirinya sendiri. Ibarat membeli ayam – tidak lama diasuh, ayam tersebut sudah melahirkan ayam. Anak ayam itu dijual, modal membeli induknya langsung balek kandang. “Eh salah, maksud saya balek kantong”. Saya mendapatkan bonus itu bukan dengan cara memaksa atau memberi janji-janji palsu. Saya berusaha memberikan informasi yang benar dan perlu nasabah dengar. Kalau mereka sadar untuk menabung, menginvestasikan dan memproteksi diri menggunakan pendapatannya-tentu mereka tidak perlu berpikir lama-lama untuk membeli. Prinsip asuransi yang benar itu menawarkan manfaat kepada nasabahnya. Bukan mengelabuhi da

Gatra Wawancara, Tempo Minta Pendapat

nortbird.wordpress.com Awal dan pertengahan ramadhan ini saya kedatangan dua orang wartawan ibu kota. Yang pertama berasal dari majalah mingguan Gatra . Namanya Pak Taufik Alwie. Dari segi usia saya menebak-nebak, dia wartawan yang cukup senior di Gatra. Sepertinya dia sudah banyak mengenyam asam garam menjadi wartawan. Sebelum bertemu, dia minta waktu untuk wawancara terkait sering munculnya konflik-konflik keyakinan keagamaan di NTB. Mulai dari kasus yang menimpa Jamaah Ahmadiyah, Jamaah Salafi dan Jamaah Syi’ah di Lombok. Itu dia masalah lain yang terjadi di Lombok yang sering masuk media dan sering ditanyakan oleh orang luar. Setelah bertemu, ya saya ceritakan apa yang saya ketahui, pantau dan analisa selama ini terutama konflik-konflik yang berlatar keyakinan keagamaan di NTB. Saya tidak tahu, siapa yang merekomendasikan nama saya di Jakarta sehingga dia menghubungi dan menemui saya untuk wawancara. Kedatangan wartawan Gatra ini bersamaan waktunya dengan kunjungan ang