Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2013

Mengerakkan Jihad Sosial

FGD Lakpesdam NU Kota Mataram untuk Menumbuhkan Kewirausahaan Bagi Remaja Putus Sekolah di Mataram Dalam berbagai kesempatan para ulama, kyai dan tuan guru berkali-kali menjelaskan makna jihad secara benar. Penjelasan ini diperlukan supaya makna jihad bisa dipahami oleh umat Islam secara benar dan proporsional. Apa lagi belakangan ini sering muncul tindakan sekelompok orang yang mengatasnama jihad Islam. Sebagaimana kita ketahui, kata jihad berasal dari bahasa Arab, ja-ha-da yang berarti sungguh-sungguh atau usaha keras. Dari kata itu kita mengenal tiga kata yang saling berkaitan –jihad, mujahadah dan ijtihad. Jihad sering salah diartikan bersungguh-sungguh dengan otot sehingga identik dengan perang fisik. Dan orang yang berjihad disebut mujahid. Mujahadah diartikan bersungguh-sungguh dengan hati. Mujahadah sering dipakai oleh kalangan sufi ketika bermunajat kepada Allah SWT. Istilah lainnya Salik –sang penempuh jalan. Lalu ijtihad dimaknai sebagai upaya bersungguh-sungguh dengan a

Semangat Keagamaan di Antara Radikalisme

Jamaah Nahdlatul Ulama (NU) Kota Mataram mendengarkan sebuah pengajian di Ponpes Al-Falah, Pagutan, Kota Mataram Banyak pengamat sosial melihat munculnya gairah keagamaan ditengah masyarakat Indonesia belakangan ini. Gairah keagamaan itu bukan hanya terjadi dikalangan orang tua saja namun terjadi juga dikalangan anak muda Islam. Kajian, diskusi dan seminar tentang ke-Islaman ramai di datangi. Di forum-forum tersebut semangat keagamaan mereka ‘disuntik’ oleh para pembicara yang berasal dari berbagai disiplin keilmuan. Buku dan film yang mengulas pemikiran dan kisah tokoh-tokoh Islam terus diproduksi. Buku dan film tersebut bukan hanya diminati oleh masyarakat umum tapi juga banyak dicari oleh kalangan muda khususnya mahasiswa dan pelajar. Wajar kalau buku dan film tersebut mendapatkan royalty yang menggiurkan secara ekonomi. Disamping itu kini mulai semakin banyak masyarakat yang sadar untuk menggunakan busana muslim. Busana muslim bahkan telah bergeser menjadi fashion tersendir

Uang Kaget dari Asuransi

http://blogdetik.com Kalau pada postingan sebelumnya, saya menulis “Honor Kejutan dari Suara NTB” , kali ini saya akan berbagi cerita tentang pengalaman seorang teman mendapatkan ‘uang kaget’ dari sebuah perusahaan asuransi. Pengalaman mendapatkan ‘uang kaget’ itu ia alami ketika sang ayah meninggal dunia beberapa waktu lalu. Kira-kira dua atau tiga minggu setelah bapaknya meninggal dunia, teman itu datang kerumah. Ia mampir kerumah setelah meyelesaikan sebuah urusan di Mataram. Di rumah ia menceritakan beberapa hal yang dia alami setelah bapaknya yang seorang tuan guru itu menghadap sang ilahi. Banyak hal yang ia ceritakan, mulai dari tanggung jawabnya dalam memimpin pondok pesantren termasuk antusiasme masyarakat dalam membantunya membangun pondok setelah bapaknya tiada. Namun yang ingin saya ceritakan disini, ketika ia didatangi oleh orang-orang asuransi. “Saya tak menyangka didatangi oleh orang asuransi kak Ucup. Dia juga membawa barang layaknya orang ngelayat”katanya be

Honor Kejuatan SUARA NTB

Bukan kali ini saja saya mendapatkan honor menulis dari koran SUARA NTB . Sudah sering. Kurang lebih sudah 14 kali selama dua tahun. Walau nilainya tidak begitu besar tapi honor kali ini agak supraze. Datang secara tiba-tiba. Tak dipikirkan dan tidak disangka-sangka. Masuk dalam kategori, ma khaisu la yahtasif. Dan letak nilainya bukan dibesar kecil angkanya tapi dikejutannya. Ceritanya begini. Kamis siang itu saya mampir ke ATM BNI Cabang Mataram. Saya bermaksud ingin mengambil uang untuk membayar premi asuransi yang biasa saya bayar 3 bulan sekali. Ketika mengecek saldo direkening, saya heran kok ada tambahan uang masuk dalam rekening tersebut. Saya penasaran, siapa kira-kira yang mengirim? Jangan-jangan ada orang salah transper sehingga saldo saya bertambah sekian ratus ribu? Biasanya kalau yang tranper pasti ada pemberitahuan. Sekian menit berpikir, belum ketemu juga jawabannya. Saya lalu memutuskan untuk mengambil uang tunai sesuai yang saya butuh. Salah satu edisi Harian

Pelajaran Politik dari Lombok Timur

Penulis dalam sebuah acara di CRCS UGM Yogyakarta awal 2012 Malam hari setelah pencoblosan Pemilihan Bupati-Wakil Bupati Lombok Timur, belasan anak muda berkumpul dijalan depan masjid kampung saya. Hampir setiap malam mereka nongkrong ditempat itu. Tapi malam itu, ada yang beda dari malam-malam biasanya. Bedanya, situasi dan apa yang mereka bicarakan. Kalau malam-malam biasa, mereka ngobrol bebas tidak pakai tema. Malam itu temanya jelas, siapa pemenang dalam pencoblosan tadi siang. Apakah incumbent atau penantangnya. Yang beda juga malam itu ternyata mereka berkumpul dipintu gerbang masjid itu ada yang menyuruh. Informasi yang saya peroleh, anak-anak muda kampung itu diminta berkumpul oleh seorang anggota dewan pendukung Sukiman-Lutfi (Sufi). Mereka disuruh berkumpul untuk mengikuti pawai keliling Lombok Timur untuk merayakan kemenangan Sufi. Mereka bahkan berjanji - siap berangkat jam berapa saja kalau ada intruksi dari sang anggota dewan. Sang anggota dewan itu sendiri lebih dul