Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Opini

Catur Politik Tokoh NU-Muhammadiyah Jelang 2019

sumber : www.hidayatullah.com Pendukung Amin Rais tiba-tiba mendeklerasikan dukungannya terhadap Amin untuk maju menjadi calon presiden 2019. Ketua dekleratornya Mayjend Syarwan Hamid, pensiunan jendral Orde Baru. Dukungan terhadap Amin ini tentu saja agin politik terbaru, karena sebelumnya Zulkifli Hasan, ketua PAN sekaligus besan Amin yang digadang-gadang untuk maju. Melihat kedekatannya dan manuver politiknya, kemungkinan Amin akan berpasangan dengan Prabowo Subianto, pendiri Partai Gerindra dan tokoh oposisi yang sudah lama mengkampanyekan diri akan maju kembali menjadi calon presiden. Itu artinya Amin siap bertarung menantang dan menumbangkan Jokowi sebagaimana kerap disampaikan kepada pendukungnya dan media massa. Karena itu ia rajin mengkritik bahkan memojokkan Jokowi. Saya tidak tahu apakah formasi politik ini hasil dari ‘umrah politik’ Amin bersama Prabowo menemui Habib Riziq, elektabilitas Prabowo yang konon tidak beranjak, logistic politiknya yang kurang, hasil P

‘Madrasah Tua yang Meranggas’ di Zaman Distrupt

Pesantren dan madrasah bagi saya tak ubahnya sebuah pohon. Ada pohon yang batangnya besar, tua, buahnya melimpah dan daunnya rindang. Pohon itu menjadi tempat berteduh oleh banyak orang (ummat). Manis buahnya bukan saja bisa dirasakan namun telah dinikmati oleh banyak orang. Bibit dan buahnya tumbuh dimana-mana. Tidak cukup dengan itu - batangnya dicangkok untuk ditanam ditempat lain. Kedua lembaga pendidikan ini telah teruji melahirkan para alumni yang menjadi pemimpin bangsa, ulama, tokoh agama, kyai, tuan guru dan ustazd. Para alumninya lalu membuka pengajian, mendirikan berbagai lembaga pendidikan atau pesantren baru ditempatnya. Contoh yang paling dekat, bagaimana pesantren-pesantren Nahdlatul Ulama (NU) di Lombok mampu melahirkan ribuan kader ahli-ahli agama dan tokoh masyarakat. Tak ubahnya sebatang pohon, tidak sedikit pesantren (madrasah) di Lombok sudah mulai meranggas. Pohonya makin tua, batangnya mulai mengeropos dan terkelupas. Ia tidak kuat lagi diterpa hembusan a

Menyerap atau Diserap ?

Ketika seseorang mencoba mendominasikan pembicaraan dari lawan bicaranya tanpa ia sadari sedang menutup kesempatan baginya untuk menyerap banyak informasi dan pengetahuan baru dari lawan bicaranya.  Saya selalu semangat kalau janjian bertemu dengan teman-teman lama termasuk yang baru kenal. Saya percaya banyak informasi baru yang bisa diserap dari pertemuan tersebut. Dari pertemuan-pertemuan itu kerap kali saya mendapatkan informasi dan pengetahuan yang tidak umum bahkan rahasia. Informasi yang tidak bisa diperoleh melalui buku, koran, tv atau saluran-saluran informasi lainnya. Karena itu setiap kali ada teman dari luar daerah datang ke Lombok tapi tidak jadi bertemu dengan berbagai sebab – selain ada perasaan tidak enak dan menyesal. Saya rasa banyak teman-teman yang lain juga mengalami hal yang sama. Dalam konteks komunikasi sebenarnya, bertemunya dua orang atau lebih individu dalam sebuah pertemuan selain akan menyebabkan komunikasi kedua belah pihak atau lebih tanpa kita s

Upeti Birokrasi

Ilustrasi : https://bambuwulung.wordpress.com/ Terbit di Koran SUARA NTB, Kamis, (3/7) 2014 SEORANG teman Pegawai Negeri Sipil (PNS) menceritakan ketidaknyamanannya bekerja dilingkungan birokrasi tempatnya bekerja saat ini. Ketidaknyamanan itu bukan karena gaji yang kecil. Jam kerja yang sangat panjang. Beban kerja yang sangat besar. Tunjangan yang tidak memadai atau adanya tekanan atasan. Ia justru merasa tidak nyaman bekerja karena buruknya budaya birokrasi kabupaten tempatnya bekerja. Baginya budaya kerja birokrasi ditempatnya bekerja bukan hanya lamban, boros, tidak kreatif tapi juga korup. Budaya kerja itu sangat berbeda jauh dengan budaya kerja yang berlaku dikalangan swasta yang sangat mengutamakan kecepatan, efisiensi, kreatif, inovatif dan tidak mentolerir tindakan korupsi. Pihak swasta sangat menyukai pegawai yang cepat, efisien, kreatif dan korupsi dalam bekerja. Di satu sisi teman itu sangat menyukai budaya kerja yang mementingkan kecepatan, efisiensi, kreatif dan m

Membaca Untuk Menulis

Bertemu dengan sesama penulis dan pecinta buku salah satu cara untuk mencas semangat menulis Artikel ini sudah terbit di Koran SUARA NTB, 9 Juni 2014    Hari Buku Sedunia ( World Book Day ) 2014 yang jatuh pada 23 April sudah berlalu. Walau begitu saya tidak ingin meninggalkan peristiwa itu tanpa meninggalkan sepotong catatan yang berarti akan hari itu. Bukankah sebuah peristiwa akan bermakna kalau kita berhasil memetik pembelajaran dari peristiwa tersebut. Apa lagi kalau peristiwa itu sudah berlangsung lama dan gampang dilupakan orang. Pada tulisan ini saya tidak ingin mengulas kembali sejarah World Book Day tersebut. Sejarah dari peristiwa itu sudah banyak ditulis orang. Saya malah ingin memanfaatkan momentum Hari Buku Sedunia itu untuk memperkenalkan pandangan baru dalam membaca dan menulis yang benar. Saya ingin pembaca memaknai membaca-menulis itu mudah dan menyenangkan bila ingin mendapatkan manfaat maksimal dari aktivitas membaca-menulis. Pandangan itu kita sebut saja ‘

Pelajaran Politik 2013

Pemilihan Bupati-Wakil Bupati Lombok Timur dan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur NTB telah usai. Even politik itu tentu meninggalkan jejak-jejak persaingan dan pertarungan antar dua, tiga orang atau lebih kelompok ditengah masyarakat. Ada kampanye, ada manuver dan ada pertarungan pengaruh politik. Dari even politik itu rakyat melihat dan mendengar, siapa yang bersaing dengan cara sehat. Siapa yang berpolitik secara santun. Siapa yang menarek simpati dengan cara menghujat pribadi dan siapa yang suka menyerang kelompok. Jejaknya masih tergambar dengan jelas dimata rakyat dan suaranya masih terang terdengar ditelinga rakyat. Saya yakin rakyat sangat cerdas untuk membedakan siapa yang bertarung dengan ‘madu’ dan siapa yang menebar 'racun' untuk menaklukkan lawan. Rakyat juga tahu, siapa yang bermain 'judi' dengan cara memasang dua nomor layaknya sebuah perjudian. Mereka bermain di Pilgub dan Pilcaleg sekaligus. Mereka tidak mudah memenangkan pertarungan. Rakyat masih

Istiharoh Politik Warga NU

Pertemuan tokoh-tokoh NU dengan KH.Zulkifli Muhadli di Pondok Pesantren At-Tamimi, Brangsak, Praya, Lombok Tengah, Sabtu (9/6) 2012 yang lalu menarek dicermati. Menareknya pertemuan itu berlangsung di Ponpes At-Tamimi yang dipimpin oleh TGH.Lalu Khairi Adnan yang notabenenya Rais Syuriah Pengurus Wilayah NU NTB. Pertemuan yang dibungkus silaturrahmi itu menjadi pembicaraan karena digagas oleh generasi muda dan tokoh-tokoh NU Lombok Tengah. Termasuk TGH.Lalu Turmuzi Badarudin–anggota Dewan Rais Syuriah Pengurus Besar NU. Dijelaskan atau tidak, pertemuan itu tentu memiliki korelasi dengan agenda pemilihan gubernur NTB yang akan datang.   Bagi warga NU dan masyarakat NTB lainnya-pertemuan tersebut bisa ditafsirkan berbeda-beda. Pertama, NU akan mengusung calon sendiri. Pertemuan itu bisa menjadi pertanda bahwa tokoh NU akan mengusung calon sendiri pada pemilihan gubernur yang akan datang. Dan Kyai Zul yang saat ini masih menjadi Bupati Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) berpotensi didu

Kisah Dua PNS Muda

Di tengah isu munculnya pemberitaan rekening gendut Pegawai Negeri Sipil (PNS) muda, saya tiba-tiba ingat dua orang teman yang menjadi PNS. Keduanya masih tergolong muda. Kisaran usia dibawah 35 tahun. Mereka berasal dari kabupaten yang berbeda dan pernah menjadi aktivis mahasiswa. Saya megamati kedua teman ini akan memiliki ‘masa depan’ yang berbeda dibirokrasi dimasa yang akan datang. Ini saya lihat dari cara mereka memposisikan diri sebagai PNS. Teman pertama cendrung pragmatis dan yang kedua cendrung idealis. Dengan demikian bisa ditebak, cara berpikir dan bertindaknya tentu sangat berbeda termasuk pendapatannya. Teman pertama jauh-jauh hari punya planing untuk menduduki posisi tertentu dipemerintahan. Entah bagaimana caranya, itu urusan nanti. Sejak mahasiswa ia sangat aktif menjadi tim sukses. Kegemarannya menjadi tim sukses itu ia geluti sampai sekarang. Walau aturan melarangnya. Ia paham betul, salah satu rumus cepat naik pangkat itu - menjadi tim sukses. Tidak heran

NTB : Nasib Tak Bersaing

BULAN Agustus lalu, sebuah media online Vivanews (25/8) memberitakan, 10 Propinsi Paling Miskin di Indonesia. Saya kaget, ternyata nama daerah kita, Nusa Tenggara Barat (NTB) bercokol diurutan ke-6. Peringkat pertama dipegang oleh Papua Barat dengan angka kemiskinan (36,80) disusul Papua (34,88), Maluku (27,74), Sulawesi Barat (23,19), Nusa Tenggara Timur (23,03), Nusa Tenggara Barat (21,55), Aceh (20,98), Bangka Belitung (18,94), Gorontalo (18,70) dan terakhir Sumatera Selatan (18,30). Bukan main, peringkat 10 Propinsi Paling Miskin di Indonesia itu diberikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) setelah melakukan konsensus penduduk secara nasional per Maret 2010. Hasilnya jumlah orang miskin di Indonesia kini telah mencapai 31,02 juta. Angka 31 juta itu sebagai bukti kegagalan pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Yang aneh, survei itu juga mencatat pengeluaran utama orang miskin sebesar 73,5 persen untuk makan. Tapi kebutuhan untuk rokok filter juga ti

Mimpi Kesejahteraan Pemekaran

PEMICU konflik di daerah ini dari hari kehari terus bertambah. Belum tuntas masalah yang satu, muncul lagi konflik lain. Kalau selama ini mengemuka konflik tanah (agraria), konflik tambang, konflik antarkampung, konflik perbedaan keyakinan keagamaan, konflik Pilkada-Pilkades – sekarang muncul lagi konflik baru yang dipicu oleh pro kontra pemekaran.   Awal bulan ini misalnya, belasan orang mengamuk di kampung saya, Aikmel, Lombok Timur. Dengan membawa senjata tajam, mereka merusak dan mengancam orang yang sedang mempersiapkan kantor desa baru yang akan dibangun dipinggir kampung. Dalam kejadian itu, satu orang mengalami luka-luka. Belakangan kedua kelompok saling lapor kepolisi. Kelompok yang menolak pemekaran melaporkan kelompok yang pro pemekaran bahwa konflik terjadi karena adanya keinginan sebagian elite desa untuk membangun desa baru, yaitu Aikmel Timur. Bagi kelompok ini, konflik akan terus terjadi bila agenda pemekaran diteruskan. Dan kekerasan yang terjadi itu bagi

Kemiskinan dan Rayuan Rentenir

Dua hari melakukan Focus Group Discution (FGD) di kelurahan Jempong dan Kelurahan Geguntur, Kecamatan Sekarbela, saya mendapatkan gambaran yang memadai akan kondisi kemiskinan di dua kelurahan tersebut. Dua kelurahan bisa menjadi gambaran betapa masih banyak warga Mataram yang hidup di bawah garis kemiskinan. Meski tidak bisa digeneralisir secara keseluruhan –dua tempat itu cukup menjadi contoh. Sebagian besar warga di kelurahan itu mereka bekerja sebagai nelayan, pedagang ikan, sopir cidomo, tukang dan pembantu rumah tangga. Tak heran pendapatan mereka tidak menentu sehingga tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Dengan kondisi seperti itu, hampir pasti mereka tidak mampu berpikir untuk mempersiapkan pendidikan dan kesehatan yang layak untuk putra- putri mereka. Seorang istri nelayan bercerita kepada saya, ia harus menabung berbulan-bulan untuk bisa membeli mesin perahu bekas agar bisa dipakai melaut oleh suaminya. Itu pun ia harus pandai-pandai  menyisi