Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2022

Jejak Pergerakan NU di Masbagek

Dalam perjalanan pulang ke Aikmel saya mengontak Ust. Herpagus Elbaoky untuk mampir kerumahnya di Masbagek. Herpagus alumni UIN Mataram dan pernah nyantri di Ponpes Al Halimi dibawah asuhan TGH.Munajib Cholidi, Sesela, Gunung Sari. Herpagus ternyata bertetangga dengan sahabat Suswadi Antama – kader PMII dan Ansor yang kini bekerja ditim PKH Depsos RI. Ust.Herpagus sekarang membuka pengajian kitab kuning setiap malam dirumahnya diikuti oleh para pemuda dikampungnya. Terakhir bertemu dengannya pada Kopdar Pengajian Kitab Ihya’ Ulumuddin oleh Kyai Ulil Absar Abdalla dihalaman Kantor PWNU NTB beberapa waktu lalu. Bila ditelusuri dan gali – Masbagek meninggalkan jejak sejarah penting dalam pergerakan Nahdlatul Ulama (NU) di Lombok dan NTB. Dari sana lahir beberapa tokoh, ulama dan tuan guru yang menjadi tulang punggung dakwah Islam di Lombok. Salah seorang pengurus pentinv PBNU saat datang ke Masbegak untuk menemui tokoh tersebut guna memastikan pembentukan pengurus NU Lombok.

Jejak Tokoh NU dari Dasan Geres dan Pringgasela

Di awal pengajian tadi pagi dimadrasah, Prof.Dr.TGH. Masnun Tahir, M.Ag cerita semalam diundang mengisi pengajian Nuzulul Qur'an di Masjid Sulukul Muttaqin, Pringgasela, Lombok Timur. Selesai acara ia lalu berziarah ke makam alm TGH. Muhammad Thoyib.  Di sana ia sempat cerita, esoknya akan mengisi pengajian di Majelis Taklim HIDAYATUDDARAIN, Dasan Geres. Dan ternyata Dasan Geres sama Pringgasela punya hubungan yang erat.  "Kayak ta jab-jab (atur-atur) jadwal niki. Di sana wali, sak niki (yang ini) wali. Subhannallah, besemeton (bersaudara)" katanya. "Kita lanjutkan pengajian para wali ini. Tidak pernah saya tahu sebelumnya hubungan Pringgasela dengan Dasan Geres. Baru kemarin malam saya tahu, walau dulu setelah ngisi pengajian disini sempat ziarah ke makam pendiri ponpes ini" tambahnya. Lalu apa hubungan warga Nahdlatul Ulama (NU) yang berada di Dasan Geres. Gerung Lombok Barat dengan di Pringgasela, Lombok Timur? Dua desa yang melahirkan banyak tokoh dan akti

The Power of Writing and Social Media

Ide tulisan ini muncul setelah saya posting status dihalaman FB ini. Baru beberapa menit saya posting muncul komen dan saling sapa dari dua orang teman. Salah seorang teman itu menawarkan buku (gratis) dan ajakan bertemu dari dua orang teman itu. Dari sana saya terpikir, betapa tulisan dan status media sosial sangat cepat menarek respon, tanggapan kebaikan dan rezeki bagi penggunanya.  Sepotong tulisan di media sosial bisa memancing, menjadi wasilah (perantara) rezeki bagi banyak orang lain. Menjadi senjata silaturrahmi yang ampuh, meski terpisah waktu dan tempat. Orang-orang biasa jadi viral dan terkenal setelah ditulis dan dibagikan di media sosial. Tulisan dimedia sosial bisa memunculkan inisiatif, ide dan gagasan untuk melakukan sesuatu secara bersama atau berkelompok (kolaborasi) oleh pembacanya. Menjadi inspirasi dan penyemangat untuk melakukan hal-hal baik, berguna dan bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Sepotong saja bisa begitu, apa lagi yang panjang.  Kekuatan (powe

Belajar dari Viralnya Cerita Layangan Putus : Dari Facebook Jadi Novel dan Film

Ibu Huriana Argi ini bekerja sebagai guru dan pedagang online. Sudah dua kali dia ingin mengikuti pelatihan menulis dimana saya sebagai pembicaranya. Baru Jum'at (25/3) kemarin dia bisa ikut, bertempat di SMP 1 Gerung, Lombok Barat. Ia rela meninggalkan 2 orang anaknya yang masih kecil-kecil hanya untuk mengikuti acara ini. Saya tahu semangatnya meningkatkan kapasitas menulis guna menunjang pekerjaannya sebagai guru dan pedagang online.  Kegiatan kali ini difasilitasi oleh organisasi Lombok Barat Literasi yang dibentuk oleh Hendra Harianto, seorang anggota DPRD Lombok Barat dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Selain sebagai anggota dewan, Hendra ini juga masih menjadi ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Lombok Barat. Sehari sebelum acara dia nanya, berapa bayar kalau ikut. Dia siap bayar kalau memang berbayar katanya. Saya bilang, kegiatan itu gratis, sudah ada yang membiayai. Saking semangatnya, selesai saya menyampaikan materi, ibu Huriana ini yang pertama kali mengangkat tang