Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2014

Lombok Post Dulu, Kampung Media Kemudian

Tulisan tentang saya yang diulas dikampung media Setelah kisah saya menerbitkan buku naik dihalaman Metropolis LombokPost , Rabu (26/3) 2014 dengan judul Mengenal Mereka Yang Muda Yang Berkarya –Ungkapkan Fakta dan Pesan Moral Melalui Tulisan . Tanpa saya tahu, tulisan tentang saya terbit juga di Kampung Media (KM) Mellbao. Tulisan itu diberi judul, “Muda Berkarya” yang dimasukkan dalam kategori Sosok Inspiratif. Secara pribadi saya tentu senang bila informasi positif tentang diri saya ditulis atau disebarkan oleh orang lain meski tidak melakukan pemberitahuan lebih dulu. Bukankah semangat dan karya positif itu layak disebarkan sebagai bahan pembelajaran bagi orang lain. Pembelajaran itu bisa ‘dipetik’ dari siapa saja dari orang-orang biasa yang luar biasa. Ini cocok dengan tegline kampung media yang berbunyi, “Sampaikan Informasi Bermanfaat Meski Satu Kalimat” . Saya tentu tersanjung ketika diri saya dimasukkan dalam kategori Sosok Inspiratif. Walau dalam hati, predika

Terlanjur Makan Nasi Jogang

' Diabadikan' dulu sebelum santap siang di Rumah Makan Oemah Cobek, Cakranegara Setelah menghabiskan segelas kopi yang disediakan, Fathul mengajak main ketoko buku Gramedia. Tentu saja ajakan itu langsung saya iya kan. Apa lagi sudah lama tidak main ketoko buku milik bos media, Jacob Oetama. Kami keliling melihat buku-buku baru. Karena sudah niat untuk beli buku, Fathul pun mengambil satu tas untuk menampung buku yang akan dibeli. Tas warna hitam bertuliskan Gramedia itu tidak bisa dibawa pulang. Tas itu hanya untuk kepentingan disana. Fathul membeli tiga judul buku yang berbeda genre. Buku pertama yang ia ambil dirak buku berjudul “Kepulauan Kangean” . Buku ini merupakan hasil penelitian beberapa orang penulis dari dalam dan luar negeri tentang Pulau Kangean. Buku kedua yang dibeli karya Dr.Suprapto , dosen Fakultas Dakwah IAIN Mataram. Buku ini diberi judul, “Semerbak Dupa di Pulau Seribu Masjid” . Buku baru, buku serius dan ringan menemani makan siang Membaca ju

Bertemu Buku dan Makan

Fathul membaca buku diruang tamu rumahnya. Pagi menjelang siang saya berangkat dari Gerung menuju Mataram. Hari itu saya janjian ketemu teman saya Fathul Rahman . Ia akrab dipanggil Ung. Fathul bekerja sebagai wartawan Lombok Post. Di media Jawa Pos Group itu posisinya sebagai salah seorang redaktur. Ia berasal dari Lombok Timur. Alumni Universitas Hasanudin (Unhas) Makasar Jurusan Kesehatan Masyarakat. Pulang dari Makasar ia daftar jadi wartawan. Langsung diterima. Kalau tidak salah, ia pertama kali ditempatkan di Lombok Timur. Setelah itu ditarek ke Mataram. Tak lama di Mataram, ia ditempatkan di Kabupaten Lombok Utara (KLU). Saat itu KLU baru ‘merdeka’ dari kabupaten Lombok Barat. Sekarang ia di tarek lagi ke Mataram sebagai redaktur. Kalau sudah redaktur, ia tentu tidak wajib menyetor tulisan setiap hari. Sebelumnya Fathul menulis satu halaman penuh setiap hari di Lombok Post. Saya suka laporan-laporannya yang panjang tentang budaya, obyek wisata, lingkungan dan kuliner. I

Ketika Saya Masuk Koran Lagi

Kliping Koran Lombok Post yang menulis saya. Tak pernah terpikir, tiba-tiba wartawan muda Lombok Post , Sirtupillaili mengubungi saya. Ia langsung mengutarakan maksudnya untuk mengangkat saya sebagai orang muda yang berkarya. Permintaannya itu saya ia kan saja, toh kita sudah lama juga saling kenal. Saat itu saya memang sedang memperbaharui isi blog saya dengan beberapa tulisan baru. Tulisan itu diberi judul Mengenal Mereka “Yang Muda Yang Berkarya" –Ungkapkan Fakta dan Pesan Moral Melalui Tulisan . Terbit di Lombok Post, Rabu, 26 Maret 2014. Belakangan setelah tulisan tentang saya dan tiga orang sosok ‘dinaikkan’ secara berturut selama 4 hari, saya baru mengerti ternyata orang muda yang dimaksud adalah anak muda yang telah menulis (menerbitkan) buku. Karya berbentuk buku bukan karya dalam bentuk yang lebih luas. Setelah membaca liputan itu saya menjadi tahu ternyata sudah banyak anak muda NTB yang telah menerbitkan buku. Bagi saya ini pertanda positif bagi bangkitnya budaya