Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Review

Belajar dari Viralnya Cerita Layangan Putus : Dari Facebook Jadi Novel dan Film

Ibu Huriana Argi ini bekerja sebagai guru dan pedagang online. Sudah dua kali dia ingin mengikuti pelatihan menulis dimana saya sebagai pembicaranya. Baru Jum'at (25/3) kemarin dia bisa ikut, bertempat di SMP 1 Gerung, Lombok Barat. Ia rela meninggalkan 2 orang anaknya yang masih kecil-kecil hanya untuk mengikuti acara ini. Saya tahu semangatnya meningkatkan kapasitas menulis guna menunjang pekerjaannya sebagai guru dan pedagang online.  Kegiatan kali ini difasilitasi oleh organisasi Lombok Barat Literasi yang dibentuk oleh Hendra Harianto, seorang anggota DPRD Lombok Barat dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Selain sebagai anggota dewan, Hendra ini juga masih menjadi ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Lombok Barat. Sehari sebelum acara dia nanya, berapa bayar kalau ikut. Dia siap bayar kalau memang berbayar katanya. Saya bilang, kegiatan itu gratis, sudah ada yang membiayai. Saking semangatnya, selesai saya menyampaikan materi, ibu Huriana ini yang pertama kali mengangkat tang

Momen Berharga Selesai Pengajian

Bersama Ust.Qamrullah, MH.I, Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PWNU NTB dan Dekan Fakultas Syariah IAI Qamarul Huda, Bagu, Lombok Tengah. Satu hal yang paling saya suka setelah selesai pengajian setiap Ahad pagi di madrasah HIDAYATUDDARAIN adalah bisa ngobrol santai dengan para tuan guru atau ustazd setelah mengisi pengajian. Setelah semua jamaah pulang, tinggal kami 4-6 orang yang membuka 'obrolan baru' sambil menikmati jamuan ala kadarnya. Setelah sekian tahun berlangsung, sekian pengajian berlalu, saya berpikir ini lah kesempatan yang tidak bisa dinikmati oleh banyak orang. Walau hari ahad, hari yang disebut hari libur - banyak orang sibuk bekerja mencari rezeki, pergi ke pantai, tempat wisata dan mall untuk mencari penghiburan dan kesenangan. Kesempatan yang sebentar itu justru saat yang tepat untuk menyerap, mengikat, mengisi diri dengan hal-hal baik dan positif. Kami ngobrol hal-hal biasa, lucu sampai yang serius. Kadang bicara hukum, kisah, pandangan, sikap sang tuan gu

Melipat Gandakan Jamaah yang Bukan Jamaah

TGH.Sholahuddin Nuruddin l ink video Pengajian Hidayatuddarain Trend mengikuti dan membuat pengajian secara live streaming melalui media sosial kini bisa dilakukan oleh siapa saja. Dari komunitas terbatas sampai diikuti oleh ribuan orang. Perkembangan ini menurut saya salah satu bentuk bid’ah khasanah dengan memanfaatkan tehnologi untuk menjangkau audiens pengajian secara lebih luas. Saya sendiri baru belajar membuat pengajian secara live streaming melalui facebook (FB). Ada dua pengajian mingguan yang saya siarkan secara streaming melalui FB. Pertama, pengajian Ahad pagi HIDAYATUDDARAIN. Pengajian ini dimulai sekitar jam 09.30 sampai menjelang zohor. Pengajian ini berlangsung dikomplek Madrasah HIDAYATUDDARAIN, Dasan Geres, Gerung, Lombok Barat. Pengajian ini diisi secara bergiliran oleh para tuan guru-tuan guru yang berasal dari Lombok Barat, Kota Mataram, Lombok Timur dan Lombok Tengah. Ada belasan orang tuan guru yang mengisi secara bergantian. Materi biasa di

Gaung Islam Nusantara

Majalah AULA, edisi April 2018 Tahun XXXX  Menyongsong usia 100 tahun Nahdlatul Ulama (NU) sejak kelahirannya 1926, terminologi Islam Nusantara yang gaungkan oleh PBNU. Melempar istilah ini tentu telah melalui proses diskusi dan kajian mendalam yang berpijak dari khazanah Islam yang berkembang di Indonesia. Kini Islam Nusantara bukan lagi istilah, wacana tapi juga kajian dan gerakan. Orang kembali menengok dan meneliti mengapa Islam berkembang secara luas dan pesat dibumi Nusantara. Salah satu rahasianya karena Islam dibawa oleh 'tangan-tangan damai', dai-dai yang pandai melakukan komunikasi (diplomasi) budaya selama tidak bertentangan dengan ajaran pokok syariat Islam. Maka kehadiran wacana Islam Nusantara dihajatkan bukan hanya untuk menjaga dan mengokohkan ciri khas corak dan praktek Islam Nusantara tapi juga wacana tanding (counter discoure) terhadap gejala paham radikal dan politisasi agama. Islam Nusantara adalah virus penangkal radikalisme paham agama yang merusak

Gerakan Islam Nusantara Berkemajuan

Majalah AULA edisi Mei 2018, "NU-Muhammadiyah : Mencairkan Ketegangan Kultural" Nahdlatul Ulama (NU) membrending gerakan sosial dan dakwah keagamaannya dengan sebutan 'Islam Nusantara'. Istilah ini bukan istilah baru, tapi sekarang dipertegas dan diperkuat dalam gerakan dakwah dan pemberdayaan ummat. Tentunya saja itu digali dan diperas dari modal sosial dan ciri khas peham Aswaja NU sebagaimana diajarkan oleh walisongo, ulama dan kyai-kyai Nusantara. Hal yang sama dilakukan oleh Ormas Muhamadiyah yang membuat tagline, 'Islam Berkemajuan'. Ini juga diharapkan sebagai spirit dan gerakan Islam yang mengutamakan kemajuan bagi warga Muhamadiyah. Tentu spirit kemajuan itu diharapkan akan menjadi semangat dan motivasi untuk terus berkarya meraih berbagai kemajuan ditengah persaingan global. Penggunaan istilah Islam dalam spirit dua Ormas Islam ini bukan berarti akan membuat atau melahirkan corak, ajaran atau agama Islam model baru. Sebaleknya malah akan

Kharisma TGH Shaleh Hambali di Lombok Timur

Buku Pemikiran Islam Lokal TGH.M Shaleh Hambali (Tuan Guru Bengkel /Datok Bengkel) karya Dr.H Adi Fadli M.Ag, Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram. Pengaruh TGH Saleh Hambali, Bengkel, masih terasa sampai hari ini dikalangan tuan guru dan pimpinan pesantren di Lombok. Pada hal TGH Saleh Hambali atau biasa dipanggil dengan Tuan Guru Bengkel sudah meninggal dunia puluhan tahun silam, tepatnya Sabtu, 7 September 1968. Namun pengaruh dan kharismanya masih melekat di hati sebagian tuan guru dan ummat Islam di Lombok. Apa lagi sebagian dari mereka memang memiliki sanad (hubungan) keilmuan dengan beliau. Dan tentu saja jabatan penting Datok Bengkel sebagai Rais Syuriah Nahdlatul Ulama (NU) kedua di pulau Lombok. dan NTB antara tahun 1953-1964. Salah satu peristiwa ketika saya menyebut nama beliau kepada Pimpinan Ponpes Hidayatul Islamiah (HI) Bagek Nyaka, Aikmel Lombok Timur, TGH Abdul Azim. “Kalau mendengar nama Tuan Guru Saleh Hambali, badan saya langsung merinding. Namanya,

Bertradisi Ditengah Serangan

Bila ingin tahu berbagai tradisi keagamaan khususnya Islam, datanglah kekampung-kampung di Lombok.Tradisi ini bukan saja lahir dari spirit agama untuk memperkuat silaturrahmi, gotong royong tapi lebih besar dari itu bagian dari strategi integrasi sosial. Coba bayangkan sebuah kampung, desa atau kota tidak punya tradisi keagamaan - maka tak ubahnya warganya seperti robot yang melakukan sesuatu berdasarkan perintah semata. Di kota-kota tradisi keagamaan sudah mulai berkurang bahkan langka. Selain karena persaingan antar individu yang sangat ketat.Namun juga asal usul warganya yang berlatar agama, etnis dan budaya yang berbeda-beda. Mayoritas antar warga tak memiliki garis nasab keluarga. Di Lombok berbagai macam tradisi lahir dan berkembang di masyarakat. Mulai dari alam rahim sampai alam kubur dirayakan. Tradisi usia bayi sekian bulan dalam perut, ngurisan (syukuran dan memberi nama), begawe sunatan kalau laki, bagawe kawin, srakalan bagi yang berangkat haji, tahlilan (yasinan, d

Memetik Inspirasi dari KOMPAS Minggu

Salah satu media cetak yang saya suka adalah KOMPAS. Hampir setiap hari saya membaca koran ini. Halaman yang paling saya suka dari koran ini adalah halaman feature yang terletak diujung bawah halaman depan dan bersambung dihalaman 15 belas. Pada hari Senin-Sabtu, rubrik yang wajib saya pelototi adalah rubrik opini dan rubrik sosok. Rubrik opini saya suka karena dari sana saya bisa membaca pikiran banyak pikiran penulis terbiasa menuangkan pikirannya dalam bentuk tulisan bernas dan pendek. Dari tulisan mereka saya dapat belajar berbagai hal yang tidak saya ketahui. Para penulis opini itu bukan saja seorang pemikir tapi juga seorang pengamat, konseptor dan pelaku dari apa yang ia pikirkan. Para penulis opini kerap menawarkan ide baru, solusi, kritik dan gugatan terhadap situasi sosial yang berkembang. Mereka bukan semata berwacana namun memberikan kontribusi gagasan yang mencerahkan. Dari rubrik sosok, saya bisa belajar tentang hidup bagaimana menjadi orang bermakna bagi diri, keluar

Merekam Hari-Hari

Tidak perlu banyak alat perekam untuk mengawetkan peristiwa.  Hanya dengan mencatatnya kita sudah mengabadikannya.  SEJAK berapa bulan ini saya memutuskan membeli buku catatan harian. Buku inilah yang saya pakai menangkap, mencatat berbagai hal penting yang saya temui (menemui) saya setiap harinya. Lebih-lebih belakangan ini intensitas saya melakukan pertemuan dan rapat lumayan sering. Mencatat menjadi pekerjaan harian saya. Kebiasaan mencatat memang sudah lama melekat pada diri saya. Bagi saya mencatat adalah kebiasaan (habit) baik yang sangat berguna sejak saya mulai suka menulis. Beberapa tulisan lepas saya bahkan saya coret-coret dulu poin-poinnya dibuku catatan baru bisa selesai saya tulis. Mencatat itu salah satu cara mengikat sekaligus mengawetkan apa saja yang kita lihat, dengar atau rasakan dalam hidup. Saya suka mencatat hal-hal penting tapi juga kalimat mengugah orang-orang besar yang bisa membangkitkan selera hidup. Kalau dulu saya mencatat pada kertas atau b

Lombok Post Dulu, Kampung Media Kemudian

Tulisan tentang saya yang diulas dikampung media Setelah kisah saya menerbitkan buku naik dihalaman Metropolis LombokPost , Rabu (26/3) 2014 dengan judul Mengenal Mereka Yang Muda Yang Berkarya –Ungkapkan Fakta dan Pesan Moral Melalui Tulisan . Tanpa saya tahu, tulisan tentang saya terbit juga di Kampung Media (KM) Mellbao. Tulisan itu diberi judul, “Muda Berkarya” yang dimasukkan dalam kategori Sosok Inspiratif. Secara pribadi saya tentu senang bila informasi positif tentang diri saya ditulis atau disebarkan oleh orang lain meski tidak melakukan pemberitahuan lebih dulu. Bukankah semangat dan karya positif itu layak disebarkan sebagai bahan pembelajaran bagi orang lain. Pembelajaran itu bisa ‘dipetik’ dari siapa saja dari orang-orang biasa yang luar biasa. Ini cocok dengan tegline kampung media yang berbunyi, “Sampaikan Informasi Bermanfaat Meski Satu Kalimat” . Saya tentu tersanjung ketika diri saya dimasukkan dalam kategori Sosok Inspiratif. Walau dalam hati, predika

Cara Seorang Ayah Mengabadikan Kisah Anaknya

Kado khitanan anak yang berisi cerita anak & surat yasin  Tulisan dibawah ini ikut menghiasi kado khitanan Muhammad Fata Assyatir, putra pertama Bapak Isnaini yang dibagikan pada tamu undangan yang hadir. Ini tujuannya supaya anda lebih dikenal oleh tamu undangan. Anda pun bisa mencoba dan mengkreasi hal yang sama bila ada momen khitanan, akikah, resepsi, ulant tahun dll. Kalau anda tidak bisa membuat sendiri, kami siap membantu anda.   *** SETIAP orang yang lahir dimuka bumi ini memegang skenario hidupnya sendiri. Jalan cerita hidupnya terangkai sejak masih dalam kandungan sampai meninggal dunia. Dari sekian milyar umat manusia yang hidup dibumi ini, hanya beberapa saja yang menulis atau dituliskan skenario hidupnya. Pada hal dari cerita hidup seseorang kita bisa memetik inspirasi, ibrah dan refleksi yang berharga. Dalam tradisi kita orang Islam, prosesi pemberian nama, akikah, khitanan bukan semata acara makan-makan tapi sunnah Nabi. Itu lalu menjadi tradisi perekat a

Cerita di Balek Nama

www.tokosajadahanak.com Setiap orang yang lahir dimuka bumi ini memegang skenario hidupnya sendiri. Jalan cerita hidupnya terangkai sejak masih dalam kandungan sampai meninggal dunia. Dari sekian milyar umat manusia yang hidup dibumi ini, hanya beberapa saja yang menulis atau dituliskan skenario hidupnya. Pada hal dari cerita hidup seseorang kita bisa memetik inspirasi, ibrah dan refleksi yang berharga. Dalam tradisi kita orang Islam, prosesi pemberian nama, akikah, khitanan bukan semata acara makan-makan tapi sunnah Nabi. Itu lalu menjadi tradisi perekat antar keluarga. Mendekatkan dan merapatkan keluarga yang tinggal berjauhan. Peristiwa itu terjadi hanya sekali seumur hidup. Karenanya perlu diketahui dan dihadari oleh segenap keluarga, sahabat, handai tolan atau siapa pun yang berkenan hadir. Maka pada momen keluarga yang langka ini, kami ingin kembali memperkenalkan anak kami yang dikhitan, Muhammad Fata Assyatir. Panggilannya Fata. Kini sudah berusia 2,7 tahun. Lahir pa

“Wow Eh Yim Mahnum”

www.mymagnum.co.id Lazimnya orang tua, setiap hari pasti memperhatikan tumbuh kembang anaknya. Kami juga mengalami hal yang sama. Banyak tingkah, prilaku dan ucapannya yang lucu membuat kami senyum dan tertawa melihatnya. Setiap hari tingkah dan polahnya berubah. Tanpa sengaja, itu sering menjadi hiburan gratis bagi kami. Itu menjadi pengusir penat, stres dan lelah setelah menjalani aktivitas sehari-hari. Ketika pertama kali belajar jalan misalnya, Fata sangat takut menginjak tanah. Tapi setelah dirayu-rayu, dia bukannya jalan pelan tapi malah lari. Setelah peristiwa itu, rasa takut dalam dirinya seolah hilang. Dan sejak bisa berjalan, dia sangat suka diajak jalan-jalan. Diperjalanan dia suka bertanya, segala hal ditanya. Kadang capek juga meladeni pertanyaannya. Kalau kita janji harus ditepati, kalau tidak dia pasti nanti akan protes. Kami harap ini pertanda dia akan menjadi anak yang kritis, rasa ingin tahu tinggi dan tidak suka berbohong. Kalau lama meninggalkan rumah, dia suka

Ami & Rahmi : Cinta Pertama dan Terakhir

Ami & Rahmi Perkenalkan saya Zamzami Anwar . Biasa dipanggil Ami. Anak kedua dari lima saudara. Lahir di Bagek Nyaka, 6 Juni 1989. Pendidikan saya mulai TK, SD dan SMP saya selesaikan di Aikmel. Madrasah Aliah (MA) saya tuntaskan di Ponpes Nurul Hakim, Kediri, Lombok Barat pimpinan TGH. Safwan Hakim. Sarjana Hukum Islam (SH.I) saya peroleh di Fakultas Syari’ah Jurusan Mu’amalah di IAIH NW Pancor. Istri saya Rahmi berasal dari Bagek Rebak, Desa Kembang Kerang. Dia anak pertama dari dua bersaudara. Tamat dari SD memutuskan mondok di Ponpes Hidayatul Islamiah yang sekarang masih dipimpin oleh kakek saya TGH.Abdul Azim. Setelah mondok selama tiga tahun, ia kemudian melanjutkan study ke Akademi Perawatan (Akper) semester tiga. Pertama kali bertemu dengan istri saya tahun 2007. Saat itu saya pulang kampung setelah ujian akhir MA. Beberapa lama setelah itu saya memberanikan diri untuk mengirim salam kepadanya melalui seorang teman. Salam saya diterima.Sampai akhirnya ia tiba-tiba

Gatra Wawancara, Tempo Minta Pendapat

nortbird.wordpress.com Awal dan pertengahan ramadhan ini saya kedatangan dua orang wartawan ibu kota. Yang pertama berasal dari majalah mingguan Gatra . Namanya Pak Taufik Alwie. Dari segi usia saya menebak-nebak, dia wartawan yang cukup senior di Gatra. Sepertinya dia sudah banyak mengenyam asam garam menjadi wartawan. Sebelum bertemu, dia minta waktu untuk wawancara terkait sering munculnya konflik-konflik keyakinan keagamaan di NTB. Mulai dari kasus yang menimpa Jamaah Ahmadiyah, Jamaah Salafi dan Jamaah Syi’ah di Lombok. Itu dia masalah lain yang terjadi di Lombok yang sering masuk media dan sering ditanyakan oleh orang luar. Setelah bertemu, ya saya ceritakan apa yang saya ketahui, pantau dan analisa selama ini terutama konflik-konflik yang berlatar keyakinan keagamaan di NTB. Saya tidak tahu, siapa yang merekomendasikan nama saya di Jakarta sehingga dia menghubungi dan menemui saya untuk wawancara. Kedatangan wartawan Gatra ini bersamaan waktunya dengan kunjungan ang

Hanya Orang Kaya Yang Tidak Butuh Asuransi

http://info.yendyinvestasikeuangan.com Saya baru sadar ternyata memiliki asuransi jiwa itu sangat penting. Karena dengan memiliki asuransi jiwa, kita sesungguhnya melakukan beberapa hal sekaligus yaitu menabung, berinvestasi dan menjamin uang kita bila terjadi resiko pada diri kita. Ibarat kata, membeli polis asuransi itu sebenarnya kita sedang ‘satu kerja dua tiga laba”. Menabung–sebagaimana lazimnya menabung sekian lama, maka uang kita akan terkumpul sekian. Dalam asuransi pun demikian, kita akan bisa melihat dan memperkirakan jumlah uang kita akan menjadi sekian setelah sekian lama. Kita bukan hanya bisa melihat jumlahnya tapi juga pertumbuhannya. Inilah yang saya maksud dengan menabung sekaligus berinvestasi. Dalam asuransi, uang yang kita setor selama satu tahun biasanya akan dipecah menjadi dua oleh perusahaan asuransi. 70 persennya dijadikan asuransi jiwa kita, sisanya 30 persen yang diinvestasikan diberbagai perusahaan yang berkembang dengan baik. Keuntungan dari invest