Langsung ke konten utama

Postingan

Mengubah Dunia (Kita) dengan Menulis

JAUH sebelum kita hadir didunia ini, anak-anak muda dari berbagai daerah dari seluruh Nusantara berkumpul menyatukan pikiran dan pandangan demi masa depan Nusantara. Mereka menggagas apa yang kita kenal hari ini dengan “Sumpah Pemuda”. Mereka menamai dirinya dengan nama Jong Java, Jong Ambon, Jong Selebes, Jong Lombok dan jong-jong yang lain. Mereka bersumpah untuk bersatu padu membela Nusantara ini dari penjajah asing. Maka bersyukurlah kita kepada Tuhan, dengan semangat sumpah pemuda itu negeri ini terbebas dari cengkaraman penjajahan asing. Maka mulai hari ini, - sampai kapanpun spirit sumpah pemuda itu mesti terus menyala dan tidak padam. Nyalanya harus terus berkobar agar bisa menerangi kehidupan kita yang masih gelap. Apa lagi kita sebagai mahasiswa, semangat sumpah pemuda itu bisa dimaknai sebagai kemauan yang kuat untuk maju. Kemauan yang sungguh-sungguh berubah menuju keadaan yang lebih baik. Sebagai orang muda, saya sangat percaya membaca-menulis yang baik

Menggaet Wisatawan dengan Novel

UNTUK mengundang wisatawan berkunjung ke NTB, pemerintah daerah telah mengeluarkan ongkos yang tidak kecil. Milyaran rupiah uang rakyat dibelanjakan tiap tahun untuk melakukan promosi dan melakukan berbagai macam event pariwisata. Bagaimana dampaknya, silahkan pembaca yang menilainya. Mengelola industri pariwisata memang tidak mudah. Ini bukan semata karena persaingan di industri ini yang sangat ketat, tapi juga kebutuhan dan selera masyarakat modern akan pelayanan pariwisata juga terus berubah. Apalagi industri pariwisata tidak cukup hanya menjual keindahan alam saja, tapi perlu ditunjang oleh sarana yang memadai, lingkungan yang nyaman sehingga mampu menghadirkan ketenangan bagi wisatawan. Menggaet wisatawan datang ke daerah tidak mesti menggunakan dana besar. Yang dibutuhkan justru cara-cara promosi kreatif. Salah satunya dengan menulis novel yang berkisah tentang daerah tersebut. Pendekatan ini sering tidak terpikirkan dan direncanakan oleh pelaku pariwisata. Padahal di bebe

TGB Makin PD

Bagi saya selalu menarek mengulas dan membincang seorang tokoh. Apakah itu tentang kiprah, pikiran atau pola kepemimpinannya. Bagaimana pun pikiran atau kepemimpinannya seorang sering kali akan berpengaruh kepada masyarakat. Dan membincang tokoh itu bukan gosif yang tidak memiliki makna apa-apa. Hal itu malah sangat positif bagi masyarakat sehingga ia bisa melihat pemimpinnya dari berbagai macam sudut pandang. Demikian pula halnya dengan tuan guru bajang (TGB). Hemat saya yang menonjol dari sosok TGB adalah kepemimpinannya bukan pemikirannya. Karena itu kita jarang mendegar gagasan dan pemikiran progresif TGB tentang satu masalah. Corak pemikirannya tidak jauh beda dengan tokoh-tokoh lain. Namun sosoknya yang berangkat dari lingkungan darah biru Nahdlatul Wathan (NW), - pimpinan Ormas terbesar di NTB yang terjun kedunia politik –maka sosoknya menarik untuk diulas. Selaku pimpinan umat dan pejabat publik, tuan TGB sudah menjadi ‘teks terbuka’. Ia bisa ditafsirkan oleh siapa saja

Kepala Daerah yang Menggerakkan

PESTA pemilihan kepala daerah (Pilkada) langsung sudah lama usai. Kini  saatnya rakyat menagih janji-janji politik pasangan kepala daerah yang sedang berkuasa. Melalui Pilkada langsung diharapkan akan lahir sosok pemimpin yang legitimit. Sistem dan mekanisme ini diniatkan mampu mendorong partisipasi politik rakyat secara luas.   Melalui Pilkada langsung, rakyat memperoleh hak politiknya secara penuh untuk memilih figur pemimpin secara independen, bertanggungjawab dan tanpa unsur paksaan. Sesuatu di masa Orde Baru begitu sulit didapatkan. Tapi apa artinya, Pilkada langsung bila kepala daerah yang terpilih masih bermental status quo dan tidak mampu menggerakkan kesadaran rakyatnya. Di NTB banyak kepala daerah yang memiliki prestasi gemilang. Mulai dari prestasi akademik dengan sederet gelar dari dalam dan luar negeri. Termasuk prestasi politik dengan menjadi ketua partai besar. Di tambah lagi dengan berbagai macam penghargaan dari komunitas masyarakat tertent

Koalisi Penulis Muda

BELASAN penulis muda berkumpul dikantor Suara NTB, Rabu (2/2) malam lalu. Mereka hadir atas undangan penanggungjawab Suara NTB dan Radio Global FM Lombok, Bapak Agus Talino. Pertemuan itu berlangsung hangat dan  akrab sehingga tak terasa diskusi baru berakhir pukul 24.00 wita. Para penulis yang hadir datang dengan latar profesi yang beragam. Mulai dari mahasiswa, dosen, guru, birokrat, pengamat politik dan pegiat LSM. Dari pembicaraan yang muncul tergambar antusiasme mereka untuk menulis. “Ini kesempatan langka yang sudah lama kita tunggu,” kata seorang teman yang menjadi dosen. Pada pertemuan itu pengelola Suara NTB,  bukan hanya meminta para penulis untuk mengirimkan buah pikiran cerdasnya tapi juga berjanji akan memberikan penghargaan (honor) kepada penulis yang tulisannya terbit. Itu artinya Suara NTB adalah media pertama di daerah ini yang berani memberikan honor kepada penulis opini. Harapannya, akan terjadi kompetisi dan seleksi antar penuli

Gurita Gizi Buruk

TAHUN 2006 silam saya diundang oleh teman-teman jaringan untuk menghadiri sebuah acara di Yogyakarta. Kegiatan itu dihadiri oleh puluhan peserta dari Sulawesi, Kalimantan, NTB dan dari Jawa sendiri. Di sela-sela acara, tiba-tiba saya ditanya oleh seorang peserta dari Jawa.“Bagaimana kabar gizi buruknya ? Saya kaget dan tidak bisa memberikan jawaban yang memadai. Saat itu gizi buruk, istilah lainnya mal nutrisi atau busung lapar sedang ‘mengamuk’ di daerah ini. Satu persatu korban gizi buruk berjatuhan. Di Lombok Timur dan Lombok Barat terdapat ratusan balita penderita gizi buruk. Itu belum termasuk yang meninggal dunia karena penanganannya terlambat.  Kasus itu lalu menjadi headline media lokal dan nasional. Isu itu kemudian mengundang simpati serta bantuan dari berbagai kalangan. Oleh Menteri Kesehatan RI saat itu kemudian dikategorikan sebagai kajadian luar biasa yang perlu penanganan serius dan terus menerus. Kini di usia NTB sudah setengah abad le

Kepincut Kelezatan Ikan Beberok

PEMUDA itu keluar memacu motornya meninggalkan kontrakannya. Ia menyusuri jalan Langko lalu belok kanan melewati kampus IAIN. Sampai dijalan Pemuda ia menekan gas motornya kemudian berhenti didepan sebuah warung makan yang berjejer dipinggir jalan. Bisa ditebak, ia ingin makan siang. Maklum sejak pagi belum ada satu potong makanan pun yang masuk kedalam perut langsingnya. Pemuda itu adalah saya. Melalui catatan edisi ini saya ingin berbagi pengalaman kepincut kelezatan ikan beberok. *** Bila anda bosan dengan masakan rumah. Tidak selera nasi kotak, nasi bungkus. Bingung nyari tempat makan bareng kekasih anda. Dan pingin merasakan makanan khas racikan tangan orang Lombok sebaiknya anda ikuti saran saya. Saya mengusulkan kepada anda untuk mengunjungi Depot 22 dijalan Pemuda, Gomong Lama. Persisnya depan SMK 2, samping lapangan atletik Mataram. Sambil makan disini anda bisa menikmati hijaunya rumput atletik. Derunya angin akan menjadi musik pengiring makan siang anda.

Sepotong Senja di Pantai Kuta

SANG raja siang terus beranjak menuju peraduannya. Bersama ‘para pengawal’ setianya, sang raja berjalan perlahan meninggalkan langit Kuta. Ia ingin ‘beristirahat’ setelah sepanjang hari bertugas menerangi bumi. Sang raja menyuguhkan pemandangan yang sangat indah diufuk barat. Sepotong senja berwarna kuning keemasan menghiasi langit Kuta. Sisa cahayanya memantul dipermukaan air laut.     Saya, Yayan dan Zul tidak ingin kehilangan moment indah itu. Kami tahu resikonya, terlambat sedikit saja kami bisa menyesal ‘seumur hidup’ karena tidak dapat menikmati senja yang beberapa saat lagi akan hilang.  Tak ingin membuang waktu, kami lalu bergegas menyapa pantai, meraba pasir, menyentuh air. Mendegar sisa-sisa ombak pantai yang ditiup angin. Angin pantai pun menyapa. “Selamat datang di Kuta, semoga membekas dihati” bisiknya ditelinga kami. Mendegarnya kami tersenyum lalu hanya bisa mengucapkan terima kasih atas sambutannya yang hangat. “Pantesan bule-bule erofa itu betah berha