Langsung ke konten utama

Postingan

Inspirasi Dahsyat dari Habibie Afsyah

Habibie Afsyah foto bersama ibunya dengan Manohara, Ust.Maulana dan Dedy Corbuzer sebagai host acara talk show Hitam Putih. Inspirasi Dahsyat Dari Habibie - Usai berbuka puasa, saya melaksanakan sholat magrib. Setelah itu saya menghidupkan tv untuk menonton berita. Berhubung tv yang selalu menyajikan berita sedang disesaki oleh berbagai iklan - saya pun memilih chenel tv lain. Harapan saya, tontonan yang bukan saja menyuguhkan informasi atau hiburan melainkan yang bisa menggugah. Perhatian saya terhenti ketika melihat talk show ‘Hitam Putih’ di Transt 7. Talk show yang dipandu Dedy Corbuzer itu menghadirkan tiga bintang tamu yang sangat berbeda. Berbeda latar belakang, propesi termasuk kisah hidup. Perbedaan mereka antara langit dan bumi. Bintang tamu pertama seorang perempuan cantik. Badannya tinggi, gaya hidupnya pun tak kalah tinggi. Saya masih ingat, dalam sebuah episode ‘Hitam Putih’ kepada Dedy Corbuzer perempuan ini pernah mengaku memiliki banyak koleksi tas merek terk

Keadilan Distribusi Zakat

Beberapa anggota DPRD Lombok Barat diberitakan ‘sewot’ terhadap pola distribusi zakat di daerahnya. Mereka menilai, telah terjadi politisasi dalam pendistribusian zakat di Lombok Barat. Pemerintah daerah dianggap bertindak tidak adil dalam pembagian zakat karena hanya menyalurkan zakat ditempat yang merupakan basis pendukungnya dalam Pilkada. Kritik kalangan dewan tersebut ditanggapi oleh bupati Lombok Barat melalui media . Ia mengatakan kebijakan itu sangat wajar karena pihaknya diberikan kewenangan oleh undang-undang untuk mengeksekusi dan mendistribusikan anggaran kepada pihak yang mereka anggap pantas. Baginya pembagian dana zakat bagian dari politik anggaran. Tanpa politik anggaran sebuah pemerintahan tidak akan bisa berjalan secara baik. Politik anggaran seperti itu wajar dan sah. Kalau ada pihak yang mempersoalkan itu justru dinilai sebagai bentuk mencari popularitas politik. Kalau sinyalemen anggota dewan itu benar, tentu hal itu sangat disayangkan. Terlepas dari m

Istiharoh Politik Warga NU

Pertemuan tokoh-tokoh NU dengan KH.Zulkifli Muhadli di Pondok Pesantren At-Tamimi, Brangsak, Praya, Lombok Tengah, Sabtu (9/6) 2012 yang lalu menarek dicermati. Menareknya pertemuan itu berlangsung di Ponpes At-Tamimi yang dipimpin oleh TGH.Lalu Khairi Adnan yang notabenenya Rais Syuriah Pengurus Wilayah NU NTB. Pertemuan yang dibungkus silaturrahmi itu menjadi pembicaraan karena digagas oleh generasi muda dan tokoh-tokoh NU Lombok Tengah. Termasuk TGH.Lalu Turmuzi Badarudin–anggota Dewan Rais Syuriah Pengurus Besar NU. Dijelaskan atau tidak, pertemuan itu tentu memiliki korelasi dengan agenda pemilihan gubernur NTB yang akan datang.   Bagi warga NU dan masyarakat NTB lainnya-pertemuan tersebut bisa ditafsirkan berbeda-beda. Pertama, NU akan mengusung calon sendiri. Pertemuan itu bisa menjadi pertanda bahwa tokoh NU akan mengusung calon sendiri pada pemilihan gubernur yang akan datang. Dan Kyai Zul yang saat ini masih menjadi Bupati Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) berpotensi didu

Kepala Desa Yang Kita Inginkan

Setelah terbentuknya Desa Aikmel Timur, wacana calon kepala desa mulai ramai dibicarakan oleh masyarakat Dasan Bagek. Nama-nama bakal calon pun sudah mulai muncul. Ada nama mantan kepala desa lama, kadus mantan dan kadus dasan bagek timur yang kini sedang menjabat. Nama-nama diatas tentu baru desas-desus yang berkembang ditengah masyarakat. Mengenai kebenaran dan kepastian yang bersangkutan untuk mencalonkan diri menjadi calon kepala desa bisa ditanyakan kepada orang bersangkutan atau kita bisa lihat nanti ketika penjaringan bakal calon. Teman-teman pasti sudah memiliki bayangan akan memilih siapa nantinya. Sedangkan teman-teman yang belum memiliki bakal calon, ada baiknya melihat dan mencermati sepak terjang nama-nama itu ditengah masyarakat. Bukankah nama-nama itu sudah tidak asing bagi kita. Ada yang pernah memimpin dan sedang memimpin (berkuasa). Dengan melihat sikap, prilaku dan caranya memimpin kita bisa menilai sesorang, apakah dia layak menjadi pemimpin at

Lomba Tambal Ban Terbaik

Dalam dua hari ini (Minggu dan Senin) – dua kali saya harus berhadapan dengan tukang tambal ban. Tentu saja saya berurusan dengan tukang tambal ban karena ban motor saya bocor. Bagaimana dengan anda, sering berurusan dengan tukang tambal ban? Urusan nambal menambal yang pertama terletak dijalan Majapahit. Kalau tidak salah tepatnya didepan Dinas Kehutanan Provinsi. Ban motor saya bagian belakang bocor usai mengisi bensin dari SPBU. Kejadian kedua terjadi dijalan raya sebelah selatan lampu merah Cakra yang menuju Dasan Cermen. Ban motor bagian belakang kembali bocor. Kali ini bocornya bukan satu tapi dua. Saya memang teledor, mestinya ban belakang itu sudah waktunya pensiun. Pada waktu nambal ban yang pertama waktunya sangat lama. (Maaf) pantat saya terasa pegal menunggu. Teman saya yang menunggu dirumah sampai pulang karena tidak tahan menunggu saya. Tahulah y ang namanya me nunggu itu, anda pasti tahu bagaimana rasanya. Apa lagi kalau tukang nambalnya terlalu slow. Bapak i

Bapak Tua Itu Mencium Tangan Saya

Jum’at (16/3) yang lalu, hujan sore baru saja reda. Ketika berdiri didepan gerdung UKM Universitas Mataram , dari arah selatan berjalan seorang laki-laki tua. Usianya kira-kira sudan melebihi 60-an tahun. Tinggi badannya tidak jauh beda dengan saya. Dan tanpa saya sadari, ternyata ia mendekati saya yang masih duduk diatas motor. “Bau ta ngendeng kepeng kadu beli nasi, lekan onek ndekman bekelor” (Bisa minta uang pakai beli nasi, dari tadi belum makan). “Wah da lekan mbe” (sudah dari mana).Tanya saya padanya. “Wah tiang meta pegawean, laguk lekan onek kelemak ndekta mau”.( Sudah saya mencari pekerjaan, tapi sejak tadi pagi saya tidak mendapatkan”. Begitu mendengarkan penjelasannya, rasa iba saya pun terpancing seketika. Tanpa berpikir lama-lama, saya pun memberinya uang Rp.10.000. “Side lekan mbe” (anda dari mana). Tanya saya lagi. “Tembelok” jawabnya singkat. Meski saya tidak tahu tembelok tu dimana, bagi saya itu tidak penting asalkan bapak tua berbaju lusuh itu dapat makan setelah

Bunga Kemuliaan

Seorang mahluk kecil hadir dalam keluarga saya. Wajahnya imut, rambut hitam pekat. Ada bekas lesung pipit dikiri kanan pipinya. Ia lahir dengan berat badan 3,5 kg. Kini diusianya beranjak satu bulan berat badannya sudah bertambah menjadi 4,5 kg. Bila menangis suaranya nyaring memekakan telinga. Tangisnya selalu memancing rasa kasihan orang. Siang selalu tidur, malam terjaga. Bila sudah tidur, presiden lewat tidak akan dihiraukan. Pihak yang paling bahagia atas kehadiran mahluk kecil itu selain bapak ibunya - sudah tentu bapak ibu saya. Bila mendengar suara tangisnya, mereka yang paling pertama khawatir. Jangan-jangan ia sakit, katanya. Mungkin karena cucu perdana kali. Oleh bapak ibunya, saya diberikan tugas mempersiapkan nama. Pada diri saya bertanya, apakah saya sudah pantas memberikan seseorang nama ? Bukankah saya masih muda, belum berkeluarga – masih hoby berbuat kekhilafan. Masih suka nyerempet-nyerempet dengan dosa.   Bukankah nama itu sebuah do’a. Apakah saya pantas

Kisah Dua PNS Muda

Di tengah isu munculnya pemberitaan rekening gendut Pegawai Negeri Sipil (PNS) muda, saya tiba-tiba ingat dua orang teman yang menjadi PNS. Keduanya masih tergolong muda. Kisaran usia dibawah 35 tahun. Mereka berasal dari kabupaten yang berbeda dan pernah menjadi aktivis mahasiswa. Saya megamati kedua teman ini akan memiliki ‘masa depan’ yang berbeda dibirokrasi dimasa yang akan datang. Ini saya lihat dari cara mereka memposisikan diri sebagai PNS. Teman pertama cendrung pragmatis dan yang kedua cendrung idealis. Dengan demikian bisa ditebak, cara berpikir dan bertindaknya tentu sangat berbeda termasuk pendapatannya. Teman pertama jauh-jauh hari punya planing untuk menduduki posisi tertentu dipemerintahan. Entah bagaimana caranya, itu urusan nanti. Sejak mahasiswa ia sangat aktif menjadi tim sukses. Kegemarannya menjadi tim sukses itu ia geluti sampai sekarang. Walau aturan melarangnya. Ia paham betul, salah satu rumus cepat naik pangkat itu - menjadi tim sukses. Tidak heran