Langsung ke konten utama

Postingan

Menang Dengan Kreativitas

Gelandang Timnas, Andik Virmansyah Tadi malam saya ikut menjadi ‘suporter jauh’ dari tim sepak bola Indonesia melawan Singapura. Walau menjadi ‘suporter’ melalui tv handpone, saya dengan jelas bisa menyaksikan semangat Andik dan kawan-kawan mematahkan berbagai serangan timnas Singapura. Kegigihan Andik dan kawan-kawan tidak sia-sia, Indonesia menang satu kosong. Saya sebenarnya bukan termasuk golongan gibol (gila bola). Meski bukan gibol, setiap tim nas main melawan negara lain, sebisanya saya bisa ikut menyaksikan melalui tv. Ketika menonton, emosi ikut ‘main’. Pada hal saya bukan pemain Timnas. Setelah menonton, saya selalu merasa ‘menang’ kalau melihat Tim Nas bisa mengalahkan lawannya. Sebaleknya, kalau tim nas kalah, saya juga akan merasakan perasaan ‘kalah’. Itulah yang terjadi. Bagaimana dengan anda, apakah anda merasakan hal yang sama ?  Baik, saya tidak ingin memperpanjang masalah perasaan itu disini. Saya justru tertarek membahas rahasia kemenangan Timnas melawan Sin

Lebih Baik ke Malaysia dari pada ke Sekolah

Putus sekolah, kawin muda, punya anak, cerai, jadi TKI ke Malaysia –semua itu hal biasa dikampung saya. Tidak ada yang mempersoalkan itu, apa lagi yang menganggap itu sebagai masalah. Kalau ada yang mencoba-coba menganggap itu sebagai masalah, bisa-bisa dicap tidak waras. Sudah berani mempermasalahkan sesuatu yang bukan masalah. Ketika menyebut sekolah yang terbayang dimata mereka adalah biaya. Biaya dan biaya. Pada hal masalahnya bukan semata biaya. Buktinya, banyak orang kaya –hidup berkecukupan ternyata tidak (bisa) sekolah. Bisa jadi, sekolah tidak menareknya baginya. Termasuk tidak ada kemauan untuk belajar. Kalau ada, dia akan merasa rugi - tidak bisa memanfaatkan kekayaan orang tuanya yang berjuta-juta untuk sekolah sampai lantai paling tinggi. Itu artinya, sekolah itu tidak melulu menyangkut biaya. Ada juga yang namanya kemauan. Kalau ada kemauan pasti ada tiket jalan. Alam juga bersabda, bila ada kemauan alam beserta isinya akan melapangkan jalan untuk meraihnya. Tuhan jug

Menulis Hal-Hal kecil Sebelum Membukukan Hal-Hal Besar

Pagi ini tidak bisa konsentrasi menulis. Di sebelah saya ngetik, adek Ula terus 'berkicau' ditempat tidurnya. Suaranya nyaring menembus gang-gang kecil dan tembok rumah tetangga mengeluarkan desisan yang tidak karuan. Sejak dua minggu ini Ula memang sedang melatih dirinya untuk bicara. Dari balek mulutnya yang mungil keluar kata yang tidak beraturan. Kadang keluar bunyi Aaaa, eee, aahhhh...ya...ya..ha...ha..ha. Agak sulit sebenarnya mendeskripsikan dengan rangakaian hurup. Kalau sudah bosan, suara tangisnya memaksa seisi rumah secepatnya mengendongnya. Di usianya yang baru tiga bulan satu minggu, Ula juga sedang belajar keras untuk membolak balek badanya kekekiri-kekanan. Pelajaran ini tentu tidak mudah baginya. Kalau badannya dibalek, salah satu tangannya akan terjepit sama badannya hingga napasnya jadi sulit. Itu terus dilakukan berulang-ulang.Walau begitu ia tidak pernah kapok. Dari itu kami orang tuanya berharap moga kelak ketika besar menjadi pribadi yang tidak mudah

Menyapa Pagi Dengan Tulisan yang Berenergi

caption from google Membuka hari dengan menulis butuh energi dari dalam. Energi ini akan menjadi cas bagi pikiran dan hati agar berkenan menuangkan perasaannya menjadi bulir-bulir kalimat berenergi. Kalimat yang berenergi inilah yang diharapkan muncul dikala pagi.  Disaat sang surya menumpahkan cahayanya diseluruh permukaan bumi. Penulis berharap mampu menyerap energi pagi dalam untaian kalimat yang bermakna. Menulis dikala pagi mengajak supaya pikiran jadi sehat dan segar. Supaya pikiran sehat dan segar kita dianjurkan tidak lama-lama memendam pikiran segera alirkan secara sehat agar mengalirnya semakin deras. Bukankah air, kalau tidak dialirkan ia cepat keruh, bau dan berubah warna.  Begitu juga dengan ide, pikiran –ia akan keruh, bau dan kotor manakala tidak segera dibagi dan dishering dengan cara yang sehat. Ada sebagian orang menulis akan semakin bergairah, hot bila ditemani secangkir kopi atau teh hangat. Mereka berharap tulisannya tidak saja mengalirkan ene

Inspirasi Dahsyat dari Habibie Afsyah

Habibie Afsyah foto bersama ibunya dengan Manohara, Ust.Maulana dan Dedy Corbuzer sebagai host acara talk show Hitam Putih. Inspirasi Dahsyat Dari Habibie - Usai berbuka puasa, saya melaksanakan sholat magrib. Setelah itu saya menghidupkan tv untuk menonton berita. Berhubung tv yang selalu menyajikan berita sedang disesaki oleh berbagai iklan - saya pun memilih chenel tv lain. Harapan saya, tontonan yang bukan saja menyuguhkan informasi atau hiburan melainkan yang bisa menggugah. Perhatian saya terhenti ketika melihat talk show ‘Hitam Putih’ di Transt 7. Talk show yang dipandu Dedy Corbuzer itu menghadirkan tiga bintang tamu yang sangat berbeda. Berbeda latar belakang, propesi termasuk kisah hidup. Perbedaan mereka antara langit dan bumi. Bintang tamu pertama seorang perempuan cantik. Badannya tinggi, gaya hidupnya pun tak kalah tinggi. Saya masih ingat, dalam sebuah episode ‘Hitam Putih’ kepada Dedy Corbuzer perempuan ini pernah mengaku memiliki banyak koleksi tas merek terk

Keadilan Distribusi Zakat

Beberapa anggota DPRD Lombok Barat diberitakan ‘sewot’ terhadap pola distribusi zakat di daerahnya. Mereka menilai, telah terjadi politisasi dalam pendistribusian zakat di Lombok Barat. Pemerintah daerah dianggap bertindak tidak adil dalam pembagian zakat karena hanya menyalurkan zakat ditempat yang merupakan basis pendukungnya dalam Pilkada. Kritik kalangan dewan tersebut ditanggapi oleh bupati Lombok Barat melalui media . Ia mengatakan kebijakan itu sangat wajar karena pihaknya diberikan kewenangan oleh undang-undang untuk mengeksekusi dan mendistribusikan anggaran kepada pihak yang mereka anggap pantas. Baginya pembagian dana zakat bagian dari politik anggaran. Tanpa politik anggaran sebuah pemerintahan tidak akan bisa berjalan secara baik. Politik anggaran seperti itu wajar dan sah. Kalau ada pihak yang mempersoalkan itu justru dinilai sebagai bentuk mencari popularitas politik. Kalau sinyalemen anggota dewan itu benar, tentu hal itu sangat disayangkan. Terlepas dari m

Istiharoh Politik Warga NU

Pertemuan tokoh-tokoh NU dengan KH.Zulkifli Muhadli di Pondok Pesantren At-Tamimi, Brangsak, Praya, Lombok Tengah, Sabtu (9/6) 2012 yang lalu menarek dicermati. Menareknya pertemuan itu berlangsung di Ponpes At-Tamimi yang dipimpin oleh TGH.Lalu Khairi Adnan yang notabenenya Rais Syuriah Pengurus Wilayah NU NTB. Pertemuan yang dibungkus silaturrahmi itu menjadi pembicaraan karena digagas oleh generasi muda dan tokoh-tokoh NU Lombok Tengah. Termasuk TGH.Lalu Turmuzi Badarudin–anggota Dewan Rais Syuriah Pengurus Besar NU. Dijelaskan atau tidak, pertemuan itu tentu memiliki korelasi dengan agenda pemilihan gubernur NTB yang akan datang.   Bagi warga NU dan masyarakat NTB lainnya-pertemuan tersebut bisa ditafsirkan berbeda-beda. Pertama, NU akan mengusung calon sendiri. Pertemuan itu bisa menjadi pertanda bahwa tokoh NU akan mengusung calon sendiri pada pemilihan gubernur yang akan datang. Dan Kyai Zul yang saat ini masih menjadi Bupati Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) berpotensi didu

Kepala Desa Yang Kita Inginkan

Setelah terbentuknya Desa Aikmel Timur, wacana calon kepala desa mulai ramai dibicarakan oleh masyarakat Dasan Bagek. Nama-nama bakal calon pun sudah mulai muncul. Ada nama mantan kepala desa lama, kadus mantan dan kadus dasan bagek timur yang kini sedang menjabat. Nama-nama diatas tentu baru desas-desus yang berkembang ditengah masyarakat. Mengenai kebenaran dan kepastian yang bersangkutan untuk mencalonkan diri menjadi calon kepala desa bisa ditanyakan kepada orang bersangkutan atau kita bisa lihat nanti ketika penjaringan bakal calon. Teman-teman pasti sudah memiliki bayangan akan memilih siapa nantinya. Sedangkan teman-teman yang belum memiliki bakal calon, ada baiknya melihat dan mencermati sepak terjang nama-nama itu ditengah masyarakat. Bukankah nama-nama itu sudah tidak asing bagi kita. Ada yang pernah memimpin dan sedang memimpin (berkuasa). Dengan melihat sikap, prilaku dan caranya memimpin kita bisa menilai sesorang, apakah dia layak menjadi pemimpin at

Lomba Tambal Ban Terbaik

Dalam dua hari ini (Minggu dan Senin) – dua kali saya harus berhadapan dengan tukang tambal ban. Tentu saja saya berurusan dengan tukang tambal ban karena ban motor saya bocor. Bagaimana dengan anda, sering berurusan dengan tukang tambal ban? Urusan nambal menambal yang pertama terletak dijalan Majapahit. Kalau tidak salah tepatnya didepan Dinas Kehutanan Provinsi. Ban motor saya bagian belakang bocor usai mengisi bensin dari SPBU. Kejadian kedua terjadi dijalan raya sebelah selatan lampu merah Cakra yang menuju Dasan Cermen. Ban motor bagian belakang kembali bocor. Kali ini bocornya bukan satu tapi dua. Saya memang teledor, mestinya ban belakang itu sudah waktunya pensiun. Pada waktu nambal ban yang pertama waktunya sangat lama. (Maaf) pantat saya terasa pegal menunggu. Teman saya yang menunggu dirumah sampai pulang karena tidak tahan menunggu saya. Tahulah y ang namanya me nunggu itu, anda pasti tahu bagaimana rasanya. Apa lagi kalau tukang nambalnya terlalu slow. Bapak i

Bapak Tua Itu Mencium Tangan Saya

Jum’at (16/3) yang lalu, hujan sore baru saja reda. Ketika berdiri didepan gerdung UKM Universitas Mataram , dari arah selatan berjalan seorang laki-laki tua. Usianya kira-kira sudan melebihi 60-an tahun. Tinggi badannya tidak jauh beda dengan saya. Dan tanpa saya sadari, ternyata ia mendekati saya yang masih duduk diatas motor. “Bau ta ngendeng kepeng kadu beli nasi, lekan onek ndekman bekelor” (Bisa minta uang pakai beli nasi, dari tadi belum makan). “Wah da lekan mbe” (sudah dari mana).Tanya saya padanya. “Wah tiang meta pegawean, laguk lekan onek kelemak ndekta mau”.( Sudah saya mencari pekerjaan, tapi sejak tadi pagi saya tidak mendapatkan”. Begitu mendengarkan penjelasannya, rasa iba saya pun terpancing seketika. Tanpa berpikir lama-lama, saya pun memberinya uang Rp.10.000. “Side lekan mbe” (anda dari mana). Tanya saya lagi. “Tembelok” jawabnya singkat. Meski saya tidak tahu tembelok tu dimana, bagi saya itu tidak penting asalkan bapak tua berbaju lusuh itu dapat makan setelah

Bunga Kemuliaan

Seorang mahluk kecil hadir dalam keluarga saya. Wajahnya imut, rambut hitam pekat. Ada bekas lesung pipit dikiri kanan pipinya. Ia lahir dengan berat badan 3,5 kg. Kini diusianya beranjak satu bulan berat badannya sudah bertambah menjadi 4,5 kg. Bila menangis suaranya nyaring memekakan telinga. Tangisnya selalu memancing rasa kasihan orang. Siang selalu tidur, malam terjaga. Bila sudah tidur, presiden lewat tidak akan dihiraukan. Pihak yang paling bahagia atas kehadiran mahluk kecil itu selain bapak ibunya - sudah tentu bapak ibu saya. Bila mendengar suara tangisnya, mereka yang paling pertama khawatir. Jangan-jangan ia sakit, katanya. Mungkin karena cucu perdana kali. Oleh bapak ibunya, saya diberikan tugas mempersiapkan nama. Pada diri saya bertanya, apakah saya sudah pantas memberikan seseorang nama ? Bukankah saya masih muda, belum berkeluarga – masih hoby berbuat kekhilafan. Masih suka nyerempet-nyerempet dengan dosa.   Bukankah nama itu sebuah do’a. Apakah saya pantas