Langsung ke konten utama

Postingan

Media dan Honor Penulis

Dua koran lokal yang terbit di Mataram BEBERAPA orang teman berdebat tentang honor penulis. Ada yang mengatakan, memberikan honor kepada penulis itu harus. Bukankah tulisan itu bagian dari karya intelektual. Butuh energi dan pikiran cerdas untuk menulisnya. Baginya, media yang tidak memberikan honor kepada penulis adalah media yang tidak menghargai penulis. Media yang tidak menghargai karya intelektual. Media seperti itu tentu tidak akan punya hubungan yang baik dengan penulis. Padahal kalau media tersebut mau, tak akan mengurangi pendapatan iklannya yang ber-milyar-milyar pertahun. Pihak lain mengatakan, menerbitkan tulisan penulis adalah salah satu bentuk penghargaan. Dengan karya tulis diterbitkan, si penulis akan mendapatkan publikasi luas nan gratis. Namanya dikenal, karyanya dibaca dan imag (citra) sebagai orang kompeten dan punya perhatian terhadap tema yang tulis itu diketahui publik secara luas. Dan tentu buah pukirannya bisa menginspirasi orang banyak. Bukankah tulisa

Menggali Ide Tulisan Dengan Peta Pikiran

Seorang siswi MA NW Al kamal, Kembang Kerang menunjukkan peta mimpi mereka dalam bentuk mind map. SETIAP diminta mengisi pelatihan menulis diberbagai tingkatan sekolah, mahasiswa dan kalangan guru – saya sering sekali mendengar kendala dari peserta pelatihan akan kendala mereka dalam menggali ide tulisan. Hal yang dimaksud tentu bukan saja kekurangan ide namun setelah ada ide tapi sulit dikembangkan. Kata mereka, baru saja menulis satu sampai tiga paragraf – bahan yang ingin ditulis sudah habis. Pada hal mereka merasa ide tersebut cukup bagus dan layak dikembangkan menjadi tulisan panjang. Kendala seperti itu tentu menjadi ‘hantu’ yang menakutkan bagi penulis pemula. Untuk itu perlu diperkenalkan berbagai cara atau pendekatan kreatif yang bisa merangsang dan menumbuhkan semangat menulis.Mungkin saja salah satu cara itu cocok dan bisa digunakan untuk menggali berbagai bahan tulisan yang sebenarnya sudah ada pada diri setiap orang. Saya sendiri percaya, bahwa semua orang memiliki

Tiga Sahabat Beda Jalan

Foto bersama usai pelatihan menulis di MA NW Kembang Kerang, Lombok Timur Kita dulu duduk dibangku kuliah yang sama. Walau berbeda tingkatan dan jurusan–kita kemudian menjelma menjadi rangkaian sahabat yang tidak pernah saling kenal sebelumnya. Waktu terus berjalan. Hari berganti. Minggu beranjak. Bulan bergerak. Tahun berganti. Masing – masing kita menyusuri langkah kaki kearah yang berbeda. Ada yang bekerja di Non Goverment Organisasion (NGO). Ada yang melanjutkan estapet pengelola pondok pesantren. Dan ada yang menapak karir sebagai guru pegawai negeri sipil (PNS). Pada hal sebelumnya kita tidak pernah meramal –akan seperti apa kita setelah itu. Dulu kita penikmat diskusi, seminar, pelatihan dan berbagai jenis bacaan. Dari yang dikatakan orang bacaan kiri –kanan. Semuanya coba kita lahap. Kita tidak peduli dampak setelah membacanya - yang penting rasanya. Dulu kita doyan demonstrasi, sekarang sudah repot mencari nasi. Dulu kita suka begadang, sekarang sudah bisa berdagang. Dulu

Kisah Tutik Merayu Tuhan Dengan Tulisan

Tutik (Jilbab Warna Orene) dan Habibah SAYA tak inget sudah berapa kali diminta berbagi pengalaman menulis. Mulai dari bentuknya diskusi terbatas hanya beberapa orang, sampai pelatihan menulis yang peserta puluhan orang. Mulai dari tingkatan anak SD, SMP, SMA dan mahasiswa. Ada juga beberapa guru yang ikut nimbrung ingin tahu bagaimana membiasakan diri menulis. Ada yang waktunya yang hanya beberapa jam, sampai 3-4 hari lamanya. Berbagi pengalaman menulis setingkat SD pernah saya lakukan di SDN 7 Aikmel 2011- dulu namanya SDN 6 Aikmel. Di sekolah ini saya dulu mengenyam pendidikan dasar. Disini saya juga merangsang peseta menulis dengan mengenalkan gaya menulis bebas (personal). Tapi yang selalu saya ingat dan sulit saya lupakan pada pelatihan sederhana yang diadakan oleh teman-teman Ikatan Pelajar Mahasiswa (IPM) Dasan Bagek ini adalah ketika ada seorang gadis tiba-tiba menangis saat saya minta membacakan hasil tulisannya didepan teman-temannya. Kenapa harus menulis mimpi merek

Memetik Inspirasi dari KOMPAS Minggu

Salah satu media cetak yang saya suka adalah KOMPAS. Hampir setiap hari saya membaca koran ini. Halaman yang paling saya suka dari koran ini adalah halaman feature yang terletak diujung bawah halaman depan dan bersambung dihalaman 15 belas. Pada hari Senin-Sabtu, rubrik yang wajib saya pelototi adalah rubrik opini dan rubrik sosok. Rubrik opini saya suka karena dari sana saya bisa membaca pikiran banyak pikiran penulis terbiasa menuangkan pikirannya dalam bentuk tulisan bernas dan pendek. Dari tulisan mereka saya dapat belajar berbagai hal yang tidak saya ketahui. Para penulis opini itu bukan saja seorang pemikir tapi juga seorang pengamat, konseptor dan pelaku dari apa yang ia pikirkan. Para penulis opini kerap menawarkan ide baru, solusi, kritik dan gugatan terhadap situasi sosial yang berkembang. Mereka bukan semata berwacana namun memberikan kontribusi gagasan yang mencerahkan. Dari rubrik sosok, saya bisa belajar tentang hidup bagaimana menjadi orang bermakna bagi diri, keluar

Merekam Hari-Hari

Tidak perlu banyak alat perekam untuk mengawetkan peristiwa.  Hanya dengan mencatatnya kita sudah mengabadikannya.  SEJAK berapa bulan ini saya memutuskan membeli buku catatan harian. Buku inilah yang saya pakai menangkap, mencatat berbagai hal penting yang saya temui (menemui) saya setiap harinya. Lebih-lebih belakangan ini intensitas saya melakukan pertemuan dan rapat lumayan sering. Mencatat menjadi pekerjaan harian saya. Kebiasaan mencatat memang sudah lama melekat pada diri saya. Bagi saya mencatat adalah kebiasaan (habit) baik yang sangat berguna sejak saya mulai suka menulis. Beberapa tulisan lepas saya bahkan saya coret-coret dulu poin-poinnya dibuku catatan baru bisa selesai saya tulis. Mencatat itu salah satu cara mengikat sekaligus mengawetkan apa saja yang kita lihat, dengar atau rasakan dalam hidup. Saya suka mencatat hal-hal penting tapi juga kalimat mengugah orang-orang besar yang bisa membangkitkan selera hidup. Kalau dulu saya mencatat pada kertas atau b

Menelusuri Jejak Titik Temu Islam-Hindu di Lombok

Kemarin pagi (5/6) akhirnya buku ini sampai ketangan saya. Di cover depannya tertera nama saya selaku salah seorang penulis. Pak Agus, pegawai pos Mataram mengaku sudah coba mengantarnya kealamat yang tertera dalam paket. Ketika sampai dialamat yang dituju ternyata sepi katanya. Ya, tentu saja sepi karena kami sudah lama pindah kantor kealamat yang baru. Akhirnya sambil berangkat kekantor saya pun mampir kekantor pos Mataram untuk mengambil paket yang dikirim oleh Center for Religious Cross Cultural & Studies (CRCS) Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta. Di buku ini saya menulis sisi baik dari berbagai kebaikan yang ditimbulkan oleh keberagaman agama di Lombok. Saya memang sengaja ingin menunjukkan kepada pembaca bahwa tanah Lombok bukan bisa menyuguhkan berbagai situs agama yang bisa dilihat tapi juga menghadirkan nilai-nilai kebaikan yang universal. Pada tulisan-tulisan saya sebelumnya saya pernah beberapa kali menulis tentang konflik antar dan intern agama di Lombok. Sa

Kolonialisme ‘Kutu Buku’

Buku-buku yang saya terlibat dalam proses kelahirannya . Seorang teman yang berdiri didepan tiba-tiba menyebut istilah ‘kutu buku’. Istilah itu langsung melekat dikepala saya. Kenapa orang yang suka membaca buku disebut ‘kutu buku’ ? Apa tidak sebaik menggunakan pilihan kata yang labih positif. Istilah ‘kutu buku’ itu kesannya negatif. Kutu kan identik dengan binatang yang beranak pihak dikepala atau rambut. Kutu bukan hanya tinggal, beranak disana tapi juga membuat kepala kulit kepala menjadi gatal-gatal. Intinya, kehadirannya dapat menggangu kenyamanan. Saya berpikir, jangan-jangan istilah ‘kutu buku’ yang disematkan kepada orang yang suka membaca buku dilakukan oleh kolonial yang dulu menjajah kita. Mereka takut orang pribumi yang suka membaca akan menjadi pintar dan cerdas. Kalau suah pintar mereka akan berani melakukan perlawanan kepada penjajah. Dengan banyak membaca, inspirasi dan semangat perlawanan akan muncul. Dengan menciptakan kesan negatif terhadap tradisi membaca, ma

Bupati Nyentrik Di Balek Retribusi Poligami

Bupati Lombok Timur, Drs.H.Moch. Ali BD Ali BD, Bupati Nyentrik Dibalek Retribusi Poligami Lombok Timur -Bulan ini Bupati Lombok Timur Drs.H.Ali Bin Dahlan (Ali BD) kembali menyita perhatian publik. Kali ini yang menjadi obyek perhatian masyarakat adalah kebijakan Ali BD yang mengeluarkan peraturan bupati (Perbup) No.26 tahun 2014 tentang kewajiban PNS di Kabupaten Lombok Timur untuk menbayar retribusi sebesar 1 juta rupiah bagi PNS yang ingin berpoligami. Ini terkait dengan pelaksanaan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2013 tentang lain-lain pendapatan asli daerah. Ali BD beralasan, Perbup itu dibuat bukan untuk menganjurkan atau mempermudah PNS untuk berpoligami. Kebijakan itu justru ia keluarkan untuk semakin memperberat syarat bagi seorang PNS yang berhasrat menambah istri. Ia juga menjelaskan, Perbup itu tetap mengacu kepada aturan diatasnya yang dikeluarkan oleh Depdagri tentang ketentuan dan syarat seorang PNS untuk bisa melakukan poligami. Dengan adanya peraturan itu, Ali BD

Marketing Inspiratif Bos Sido Muncul

Irwan Hidayat, berpose diantara bajaj yang pernah dipakai Jokowi-JK. (sumber foto : berita satu) BEBERAPA waktu lalu media massa ramai memberitakan tindakan Irwan Hidayat yang memborong bajaj yang dikendarai oleh Joko Widodo–Jusuf Kalla untuk mendaftar menjadi Capres-cawapres ke kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Jakarta. Berbeda dengan pasangan Prabowo-Hatta yang datang ke KPU mengendarai mobil mewah beratap terbuka, Jokowi-JK sengaja menggunakan bajaj. Mereka ingin mengesankan karakter mereka yang merakyat dan dekat dengan rakyat. Bos jamu Sido Muncul itu membeli dua bajaj itu dengan harga 240 juta. Satu bajaj dibeli dengan harga 120 juta. Tadinya pemilik bajaj tersebut sebenarnya tidak mau diberi uang. Ia mau dibelikan bajaj yang sama jenisnya. Tapi Irwan Hidayat tetap memberinya uang masing-masing 20 juta sebagai tips. Total dana yang dikeluarkan untuk mendapatkan dua bajaj tersebut seharga 280 juta. Pemilik bajaj yang beruntung dipakai Jokowi bernama Pak Rahmat. Pemilik b

Legit dan Gurih Pelemeng Campur Poteng

Pelemeng dan Poteng, pasangan serasi untuk disantap bersamaan dikala silaturrahmi hari Lebaran SETIAP kampung di Lombok punya jajan khas yang dibuat khusus menjelang Hari Raya Idul Fitri. Di Desa Aikmel, Lombok Timur misalnya – beberapa hari menjelang lebaran, kaum ibu sudah sibuk menyiapkan beraneka jenis makanan dan jajan yang akan disajikan pada hari istimewa. Di antara jajan yang selalu ada disebut Pelemeng dan Poteng. Bila datang bersilaturrahmi kewarga - Pelemeng dan Poteng yang terdepan untuk disuguhkan. Pelemeng yang terbuat dari ketan rasanya gurih dan kenyal sedangkan Poteng terasa manis dan berair. Saat dimakan, akan bertemu rasa gurih dan manis dimulut. Dua jenis jajan tradisional masyarakat Sasak ini cukup mengenyangkan kalau dimakan.   Pelemeng terbuat dari ketan yang dibungkus dengan daun pisang. Membuat Pelemeng, daun pisang yang dipakai sengaja dipilih yang ukuran diameternya besar dan panjang. Daun pisang dijemur terlebih dahulu sebelum dibentuk supaya ti

Pelajaran Jadi Relawan Jokowi-JK di Kampung

Spanduk penanda sebagai relawan depan rumah TIDAK ada yang mengajak saya menjadi relawan Jokowi-JK pada Pilpres tahun ini. Saya bergerak atas inisiatif dan kemauan sendiri. Dengan begitu saya tidak bergabung dengan kelompok relawan atau pertai politik tertentu yang mengusung pencalonan Jokowi-JK dalam perebutan kursi Preside-Wakil Presiden, Juli 2014. Saya sendiri mulai mengenal sosok Jokowi sekitar tahun 2010 melalui media massa. Saat itu Jokowi masih menjabat sebagai Wali Kota Solo. Dari media massa cetak dan online saya belajar bagaimana lelaki itu mengelola sebuah kota yang pendekatannya sangat berbeda dari kepala-kepala daerah lain di Indonesia. Dan ekspos media semakin ramai tentang mantan pengusaha mebel itu setelah terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta. Pengetahuan saya bisa dikatakan makin dengan mantan wali kota yang terkenal dengan blusukannya itu setelah membaca berbagai buku yang secara khusus mengulas Joko Widodo dari A-Z. Dari sana saya makin yakin bahwa orang ini

Upeti Birokrasi

Ilustrasi : https://bambuwulung.wordpress.com/ Terbit di Koran SUARA NTB, Kamis, (3/7) 2014 SEORANG teman Pegawai Negeri Sipil (PNS) menceritakan ketidaknyamanannya bekerja dilingkungan birokrasi tempatnya bekerja saat ini. Ketidaknyamanan itu bukan karena gaji yang kecil. Jam kerja yang sangat panjang. Beban kerja yang sangat besar. Tunjangan yang tidak memadai atau adanya tekanan atasan. Ia justru merasa tidak nyaman bekerja karena buruknya budaya birokrasi kabupaten tempatnya bekerja. Baginya budaya kerja birokrasi ditempatnya bekerja bukan hanya lamban, boros, tidak kreatif tapi juga korup. Budaya kerja itu sangat berbeda jauh dengan budaya kerja yang berlaku dikalangan swasta yang sangat mengutamakan kecepatan, efisiensi, kreatif, inovatif dan tidak mentolerir tindakan korupsi. Pihak swasta sangat menyukai pegawai yang cepat, efisien, kreatif dan korupsi dalam bekerja. Di satu sisi teman itu sangat menyukai budaya kerja yang mementingkan kecepatan, efisiensi, kreatif dan m